Senin, 09 April 2012

Achsanul Qosasi : Saya Bangga Menjadi Orang Madura


Pamekasan - Achsanul Qosasi anggota DPR RI Dapil XI Madura, Jawa Timur menghadiri Seminar Nasional Empat Pilar Kebangsaan di SMKN Pamekasan, Sabtu (8/4). Acara yang dihadiri oleh KH. Kholilur Rahman, Bupati Pamekasan dan Ahmad Faisal Ketua DPD KNPI Pamekasan ini, diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA), Pamekasan.

Dalam acara itu Achsanul Qosasi melontarkan kalimat, Kebangsaan Madura Bagian dari Identitas Kebangsaan Indonesia. ia juga mengatakan, dirinya sangat bangga sebagai orang Madura.

“Bagaimanapun saya lahir dan dibesarkan di tanah tumpah darah Madura. Walaupun ada sebagian orang Madura yang merasa minder mengakui tanah kelahirannya, karena ejekan dan godaan yang memerahkan telinga, terkait kehidupan orang Madura,” terang Achsanul Qosasi yang juga Wakil Ketua Komisi XI DPR RI ini.

Menurut Achsaul Qosasi, orang Madura memiliki potensi yang cukup kuat dalam segala hal. Diantaranya, penduduk suku Madura tersebar di dunia. Karakter Madura juga memiliki sikap kerja keras dan tak pernah putus asa, apalagi tak mau disebut sebagai pengecut.

Madura juga kata Achsanul Qosasi, termasuk peringkat 5 suku tersukses di Indonesia dan jumlah rasnya terbesar ke empat di Indonesia. Setelah suku Jawa, Melayu dan Bugis. “Semua potensi ini harus dimaksimalkan untuk kesejahteraan dan pembangunan daerah tertingal di Madura,” ujarnya.

Dalam acara Seminar yang bertema; Membendung Radikalisme dengan Empat Pilar Kebangsaan ini, Achsanul Qosasi juga menyatakan, munculnya radikalisme akibat adanya otonomi daerah yang kebablasan. Dimana banyak ketidakadilan yang masih berlangsung setiap hari.

Namun, kata pria kelahiran Daramista, Lenteng, Sumenep ini, Pemerintah terus berupaya untuk mensejahterakan rakyatnya. Walau masih banyak yang belum bisa dipenuhi. Pemerintahan SBY-Boediono saat ini terus memprioritaskan pembangunan percepatan daerah tertinggal dan miskin.

“Buktinya Pemerintah Pusat melalui Badan Percepatan Wilayah Suramadu (BPWS) menyiapkan sekitar 295 Milyar untuk anggaran pembangunan Madura. Akan tetapi dana yang tersebut hanya terserap 35 persen saja. Kedepan kita ajukan lagi dan perlu dimaksimalkan agar terserap makasimal,” terang pria yang diramaikan media menjadi kandidat Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini. (rud)

Winda: Utamakan Kecantikan Intelektual


Sosok Dewi Martina Agustira

Menjadi seorang perempuan cantik tidak harus mengedepankan kecantikan fisik dan wajah semata. Namun kecantikan dalam bentuk kecerdasan intelektual atau Intelegensi Quotient (IQ) lebih diutamakan guna menambah esensi kecantikan.

Hal ini disampaikan gadis bernama Dewi Martina Agustira, perempuan kelahiran, Sumenep, 16 Agustus 1990. Ia biasa dipanggil oleh teman-temannya dengan nama Winda.

Menurut gadis yang pernah mengikuti Pemilihan Kacong tor Cebbing Sumenep 2006-2007 ini mengatakan, kecantikan pada hakikatnya merupakan manipulasi dan pandangan pada diri seseorang perempuan tersebut.

“Akan tetapi kecantikan perempuan paling ideal adalah dibarengi kecerdasan intelektual. Dimana kecantikan itu tidak akan pernah luntur dan dikenang sepanjang masa,” ujar Winda dengan senyum tipisnya yang begitu mempesona.

Winda juga menerangkan bahwa, kecantikan intelektual merupakan harapan semua perempuan, dengan mengedepankan sosok intelektual dan kecantikan diri, yang tak kasat mata. Serta didukung oleh imajinasi diri untuk memberikan opsi pola sehari-hari.

“Bagi perempuan aktif, yang tetap ingin memperhatikan penampilan diri masing-masing. Sangatlah penting sebuah inspirasi untuk menantang asumsi sensualitas dan feminitas semata,” terang mahasiswa pasca sarjana STIE Mahardika.

Winda juga mengatakan bahwa, banyak orang berkata bahwa kejujuran telah sirna dan banyak orang berkata kebenaran mulai luntur. Tetapi kuyakin jujur dan benar tak pernah mati,

“Karena jujur dan benar itu indah. Terutama bagi perempuan mengedepankan kecerdasan intelektual,” pungkas gadis yang aktif sebagai profesional muda ini.

Penggemar Katty Pary ini juga menambahkan bahwa, di era kebebasan informasi dan tehnologi saat ini, diharapkan perempuan Indonesia memiliki kompetensi. Supaya nantinya memiliki kemampuan.daya saing yang tinggi di era global.

“Jika perempuan Indonesia maju. Maka kedepan pembangunan bangsa ini lebih maju lagi,” ucap Winda dengan wajah penuh optimisme. (rud)

Menulis untuk Tugas Sejarah


Oleh Syafrudin Budiman, SIP (Pimred www.liputanmadura.com)

Sosok Yazid R Passandre dilirik sejak dirinya menulis Novel Lumpur, Trilogi Tanah dan Cinta. Ia menceritakan tragedi semburan lumpur panas di Porong dan kisah duka derita korban.

Catatan kelam yang diringkas dalam sebuah novel ini mendadak laris dan banyak diburu orang. Mulai dari para korban, aktifis LSM, mahasiswa, dosen, dan politisi. Bahkan, para pejabat yang tangannya masih berlumuran lumpur Lapindo, ikut pula membaca karyanya.

Yazid, panggilan pendeknya. Sosok pria penuh optimisme ini lahir 9 Januari 1978 dan dibesarkan di Pulau Sapeken, Sumenep, Jawa Timur. Sejak kecil hingga tamat Madrasah Tsanawiyah di Pesantren Abu Hurairah, ia menghabiskan waktunya di Pulau Sapeken, sebuah pulau mungil yang terletak di gugusan timur kepulauan Madura.

Yazid pernah berfikir untuk tidak melanjutkan sekolah formal dan pergi ke Bandung menyusul kakaknya. Beberapa bulan tinggal di Kota Kembang itu, sang kakak menyarankan agar Yazid mondok lagi di sebuah pesantren di Solo. Setahun nyantri di Pesantren Al-Mukmin Sukaharjo, Solo, Yazid hijrah ke Yogyakarta dan meneruskan sekolahnya di SMU Muhammadiyah.

“Saya mengenyam kegetiran dan lika-liku hidup sejak kanak sebagai orang pulau yang sehari-hari tinggal di tepi laut. Menimba secara langsung spirit kehidupan dari ayah, dan belajar tentang filosofi hidup dari laut: berpikir luas dan dalam, serta sanggup memangku beban.” Ujar Yazid mengenang kampung halamannya.

Selama sekolah di Yogyakarta, Yazid mulai berkenalan dengan dunia tulis menulis dan beberapa kali menjuarai lomba menulis seperti resensi buku dan karya tulis ilmiah. Yazid yang menyukai aktivitas volunteer aktif pula berorganisasi. Ia sempat mengabdi sebagai Direktur Eksekutif Pusat Pengembangan dan Pengkajian Strategi Dakwah Remaja (P3SDR) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Meskipun duduk di bangku sekolah menengah, Yazid tak canggung berkecimpung dan menggeluti pengalaman organisasi yang tidak lumrah bagi remaja seusianya waktu itu.

“Dalam hidup yang paling menentukan bukan usia atau jenjang pendidikan, tapi pola pikir. Saya yakin, usia tidak masuk daftar syarat kematangan dan keberhasilan. Hidup ini terlalu singkat untuk menunggu hal-hal besar yang bisa kita perbuat hari ini,” ungkap Yazid.

Anak ketiga dari pasangan H.M. Muhammad Ali Daeng Sandre dan Hj. Fauziah Badrul ini belum mengenyam pendidikan perguruan tinggi, karena segera memutuskan untuk langsung bergiat dalam dunia interpreneur. Beberapa tahun lamanya aktivitas kepenulisannya mandeg karena kesibukan Yazid bertualang dalam dunia usaha.

Pada usianya yang masih muda (27 tahun), Yazid sudah mengukir prestasi usaha yang cukup gemilang, meski beberapa tahun kemudian perumahan Alam Songsong Permai yang dikembangkannya di sebuah kawasan di Madura mengalami kemacetan. “Usaha itu memang sempat macet, tapi saya tidak merasa gagal. Saya yakin semua bisa ditata kembali untuk dilanjutkan dengan cara yang lebih baik. Saya mengalami kesulitan bukan karena terlalu cepat meraih keberhasilan, tapi karena memang ada yang salah dalam mengelola keberhasilan itu. Tentu, ini pengalaman berharga untuk meraih mimpi-mimpi saya yang tertunda,” tutur yazid.

Namun, di sela-sela masa sulitnya itulah Yazid menemukan mutiara yang hilang. Berawal dari kerinduannya kepada sosok kakeknya, Yazid kemudian memutuskan untuk menulis buku biografi sang kakek. Buku tersebut terbit dengan judul: DAENG SANDRE, Kilas Jejak Sang Pemimpin. Perjalanan sang kakek dan pengalaman kepemimpinannya sebagai kepala desa hingga akhir hayat, Yazid tumpah-tuturkan dalam buku itu.

“Keindahan yang saya rasakan dalam menulis adalah karunia besar yang Tuhan anugerahkan secara diam-diam ke dalam hidup saya. Saya tidak punya alasan untuk tidak mensyukurinya.” Kata pria penuh pesona ini.

Setahun berikutnya, Yazid menerbitkan buku kedua berbentuk novel dengan judul Tonggak Sang Pencerah (TSP). Novel sejarah yang menuturkan perjalanan hidup KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, ini Yazid tulis sebagai karya persembahan untuk mengenang jasa-jasa perjuangan sosok Pahlawan Kususma Bangsa dari Kauman itu bertepatan dengan momentum Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (2010).

Pada 12 November 2011, Yazid melaunching Novel Lumpur. Ia mengaku bangga dengan ketiga buku yang telah ditulisnya itu, dan selalu mengatakan bahwa menulis adalah tugas sejarah yang harus terus dilanjutkan. “Dengan karya tulis, saya mengabdi kepada Tuhan, berbakti kepada kemanusiaan dan kehidupan.” (rud)

Foto: Yazid R Passandre usai launching Novel Lumpur di Gramedia Matraman, Jakarta.

Rabu, 04 April 2012

Madura Butuh Penguatan Budaya Lokal

Sosok Dewi Martina Agustira dikenal dengan panggilan Winda adalah seorang profesional muda, aktifis perempuan, relawan sosial, entertainer, photography dan, pegiat di bidang seni dan budaya. Winda adalah seorang cebbing Sumenep yang lahir dari pasangan Rohmaniah asal Banyuwangi daratan paling timur di Pulau Jawa dan (Alm) Sumartono asal Sumenep, daratan timur di Pulau Madura.

Masa kecil gadis yang cantik dan periang ini waktunya banyak dihabiskan di Jl. Trunojoyo Gang VIII-A, Kolor, Kabupaten Sumenep. Madura, Jawa Timur. Sebuah daerah wisata yang kaya akan budaya lokal yang memiliki identitas tersediri praktek kebudayaannya. Baik itu bahasa, tradisi, perilaku, seni dan kebudayaan lokalnya.

Namun Winda, sering mengalami kegelisahan dan kegundahan. Akankah kebudayaan lokal Sumenep khususnya dan Madura pada umumnya bisa bertahan di daerahnya sendiri? Bagaimana dengan serbuan budaya lokal Indonesia dari budaya asing. Apalagi di era liberalisasi informasi dan ekonomi, paska berdirinya Jembatan Suramadu?

Gadis kelahiran 16 Agustus 1990 ini mengatakan, sepertinya perlu kesadaran tiap warga Madura agar lebih mencintai kebudayaan lokal ketimbang budaya luar. Jika melihat kondisi sekarang ini, terlihat banyak sekali anak-anak muda yang tidak peduli lagi dengan budaya lokal Madura.

“Banyak anak muda jarang menggunakan bahasa halus Madura, atau bahasa yang penuh tatakrama untuk menghargai semua orang. Terutama yang dituakan dan dihormati,” ujar Winda yang juga aktif sebagai relawan sosial dan organisasi perempuan.

Penggemar Agnes Monica ini sering bertanya, apakah kebudayaan lokal asli Madura sudah tidak menarik lagi buat anak-anak muda saat ini? Padahal kata Winda, dengan mempertahankan budaya Madura sendiri, bisa membendung masuknya kebudayaan asing. Budaya lokal adalah tonggak pemersatu bangsa dan diperlukan peran banyak pihak untuk peduli pada topik ini.

“Kebudayaan lokal yang berasal dari tiap sudut di Madura dapat berperan sebagai pembentuk keberagaman. Hal ini menarik mengingat masing-masing memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, bahkan dunia internasional,” tandas Mahasiswa Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya.

Menurut profesional muda ini, Budaya lokal Madura merupakan jati diri bangsa Indonesia dan cermin kebhinekaan sikap bangsa yang menghargai segala perbedaan. Bisa dilihat dari macam-macam tarian di Indonesia, seni tradisional, bahasa, adat istiadat, hingga upacara adat yang beragam.

Selanjutnya kata Winda, dengan berbagai macam-macam kebudayaan inilah, dapat menjadikan kekuatan tersendiri untuk menarik wisatawan dari domestik sampai internasioanal. Faktanya juga banyak orang asing tertarik untuk mempelajari budaya lokal Madura.

“Kalau orang luar saja ingin mengenal dan tertarik dengan budaya Madura. Kenapa kita yang asli orang Madura malah mencintai budaya luar yang kadang tidak patut kita tiru,” pungkas gadis yang memiliki hobi photograpy ini. (rud)
Profil Winda :
Nama : Dewi Martina Agustira
Nama Lain : Winda
Kelahiran : Sumenep, Madura, 16 Agustus 1990 di Sumenep
Agama : Islam
Orang tua : Alm. Sumartono – Rohmaniah
Pendidikan : Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya
Pekerjaan : karyawan di BCA
Hobi : Photography, Membaca Novel, Nonton Film, Dengerin Musik
Motto Hidup : Talk Less Do More, Miskin Kata-kata Kaya Tindakan
Musik : Katy Perry, Agnes Monica
Idola : Alm Papa dan Muhammad Sang Rasul

Minggu, 01 April 2012

DPP IMM : Pemerintahan SBY-Boediono Penganut Neoliberal


Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP-IMM) menyatakan, Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono (SBY-Boediono) adalah pemerintahan penganut mazhab neoliberalisme. Dimana Pemerintah memutuskan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai 1 April mendatang.

Hal ini disampaikan korlap aksi tolak kenaikan BBM, Supriadi Djae yang Sekretaris Bidang Hikmah DPP IMM, di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Kamis, (29/3).

Menurut pria yang biasa dipanggil Suja’ini mengatakan, kenaikan harga minyak dunia tidak bisa dijadikan alasan membatasi subsidi BBM senilai Rp 137 trilyun. Apalagi ypemerintah sampai tega menaikkan harga jualnya menjadi 6000 rupiah per-liter atau naik sebesar 1500 rupiah per-liter.

“Asumsi pemerintah SBY-Boediono menyelamatkan puluhan trilyun rupiah untuk masyarakat miskin dengan program-program sosialnya, hanyalah kamuflase saja. Padahal kerugian yang ditanggung rakyat miskin akibat kenaikan BBM akan lebih memiskinkan lagi,” terang Suja.

Kata mantan Ketua Umum DPD IMM NTB ini, pemerintah seharusnya melakukan efisiensi anggaran di bidang lainnya. Seperti memotong anggaran alusista TNI yang sebesar 150 Trilyun dan memotong gaji pejabat tinggi negara.

Selain itu kata Suja, saat ini korupsi berlangsung kian menggurita, pajak dikemplang, anggaran pembangunan dikorupsi, dan sumber daya alam dikuasi korporasi asing. Dan kat Suja, juga salah urus sektor migas luput dari perhatian pemerintah.

“Kami menilai pemerintahan SBY-Boediono telah salah arah,” ungkap Suja.

Sementara itu dengan rinci ia juga menjelaskan, kebocoran dan inefisiensi inilah yang justru merugikan keuangan Negara, ketimbang besaran subsidi yang selalu jadi kambing hitam.

“Indonesia adalah negara penghasil minyak, malah justru mengimpor dengan harga mahal dari luar negeri. Sedangkan sumber-sumber energi alternatif juga tidak pernah menjadi prioritas agar ketergantungan terhadap BBM dapat dikurangi,” pungkas Suja.

Oleh karena itu kata Suja, IMM dengan tegas menolak langkah pemerintah menaikkan harga BBM. Dan mendesak pemerintah mengembalikan semua subsidi rakyat di bidang energi, pendidikan, kesehatan, pertanian dan perumahan.

“Kami IMM juga mendukung langkah PP Muhammadiyah yang akan melakukan uji materil UU Migas kepada Mahkamah Konstitusi,” ujar pria muda asal Indonesia Timur ini. (rud)

Rabu, 28 Maret 2012

Komite Kerja Advokat Indonesia Desak Revisi KUHP


Jakarta - Naskah Rancangan Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (R-KUHP) saat ini menjadi prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2012. Namun sampai saat ini pemerintah dan DPR RI belum membahas RUU tersebut.

“Untuk kami dari Komite Kerja Advokat Indonesia (Tekad Indonesia) mendesak kepada pemerintah dan DPR RI untuk segera membahas RUU KUHP pada tahun 2012 ini,” ujar DR. Juniver Girsang, SH, MH., Ketua Badan Pengurus Tekad Indonesia, Jakarta (28/3) dalam siaran persnya, didampingi Harry Ponto, SH, LLM .

Menurut Advokat senior ini, RUU KUHP sudah menjadi prioritas pembahasan Prolegnas, Namun, kenyataannya belum ada tanda-tanda realisasi. Katanya, pemerintah terkesan masih lebih suka mengandalkan hukum warisan colonial, yang di negaranya sendiri (red-Belanda) telah dipeti-eskan.

“Untuk itu, lambatnya pembahasan R-KUHP ini menunjukkan pemerintah belum memiliki political will. Terutama dalam menunjang upaya modernisasi perlindungan hukum atas hak-hak asasi bagi warga Negara Indonesia.

Juniver Girsang juga menerangkan bahwa, sebenarnya naskah RUU-KUHP sudah hampir 30 tahun usia-nya. Sejak dipersiapkan tahun 1982 oleh Tim di Departemen Kehakiman, yang saat ini telah berubah nama menjadi Departemen Hukum dan HAM.

”Pada pertengahan tahun 1993, Naskah RUU-KUHP dianggap telah selesai dan semula akan diajukan ke DPR. Tetapi pengajuan pembahasan ini menjadi tertunda,” terangnya.

Kendala ini terjadi, kata Juniver, antara lain disebabkan meluasnya pro-kontra di media massa terhadap beberapa pasal dalam RUU-KUHP, terutama pasal-pasal dalam bab Kesusilaan.

”Pemerintah tak berdaya menghadapi tudingan dan kontroversi, sehingga Menteri Kehakiman saat itu, Oetojo Oesman, akhirnya menyerah dan menunda pengajuan naskah itu ke DPR. Oetojo Oesman lebih memilih untuk melakukan penggodokan kembali,” jelas pria setengah baya ini.

Ditambahkan, Harry Ponto, SH, LLM., Sekretaris Tekad Indonesia, secara substansial, pembaharuan KUHP yang dipelopori oleh Departemen Hukum dan HAM ini sarat dengan muatan mainstream moral, over criminalization, dan pasal-pasal yang bersifat victimless crime.

Bahkan, kata Harry Pontoh, ada kecenderungan RUU-KUHP yang ada saat ini justru mereduksi berbagai peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus (lex spesialis), seperti UU tentang HAM, UU Pornografi, UU Trafficking, dan lain-lain.

”Ironisnya lagi, dalam konsideran RUU-KUHP tidak mempertimbangkan instrumen-instrumen HAM internasional yang telah di ratifikasi. Seperti, konvensi hak sipil dan politik (ICCPR), konvensi anti penyiksaan (CAT), konvensi CEDAW, dan lain-lain. Sehingga substansi pasal yang diatur banyak menyimpang dari standar-standar HAM internasional,” ujar Advokat Senior ini. (rud)

foto : Forum Indonesia

Senin, 26 Maret 2012

Winda: Talk Less Do More


Sosok Dewi Martina Agustira

Kalimat salah satu iklan rokok inilah yang terlontar dari bibir Winda. Perempuan muda berparas ayu ini memiliki nama lengkap Dewi Martina Agustira. Sebagai profesional muda, dirinya tentu dituntut kaya tindakan dan miskin kata-kata.

“Kurangi rasa takut, tumbuhkan keberanian dan kurangi bicara. Perbanyak kerja, hindari benci dan kuatkan cinta. Insya Allah yang terbaik adalah milikmu” ucap Winda, gadis kelahiran Sumenep, 16 Agustus 1990 ini.

Menurut Winda, cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan. “Itulah syarat jika kita ingin sukses dan mencapai harapan yang kita inginkan.”

Selain itu kata Winda, untuk mencapai tujuan yang sempurna. Seseorang harus tekun dan jujur ketika melakukan pekerjaan, terutama saat menerima amanah.

“Jujur itu indah …,” terang Winda yang saat ini menjalani studi pasca sarjana di STIE Mahardika Surabaya.

Bank Central Asia Sumenep adalah pilihan kerjanya sehari-hari. Dalam bekerja dia tidak pernah mengeluh, kata-kata jenuh saja sudah dihapus dalam kamus pribadi Winda. Yang terpenting kata putri Alm Sumartono ini, terus melakukan yang terbaik.

“Menang, bukan berarti menjadi paling. Tetapi, menang adalah karena anda berusaha lebih baik dari sebelumnya,” tutur Winda dengan penuh senyum dan kebahagiaan.(rud)

Rabu, 07 Desember 2011

Achmad Iskandar de jure Ketua FPD

SK Pergantian Ketua FPD DPRD Jatim Turun

Surabaya - Sinyal pergantian ketua Fraksi Partai Demokrat (F-PD) DPRD Jawa Timur Lilik Muharti yang dikemukakan Ketua DPD PD Jatim Soekarwo kemarin menjadi kenyataan.
Hal itu terbukti setelah ketua anggota Fraksi Demokrat Achmad Iskandar mengaku bahwa dirinya telah menerima sutat keputusan (SK) dari DPD PD Jatim.

“Ya benar. Pergantian pimpinan fraksi itu memang ada. Saya sudah menerima SK nya. Secara de jure saya sudah menjadi ketua fraksi, tinggal tunggu di paripurnakan saja,”kata politisi Demokrat yang saat ini masih menjabat Ketua Komisi E DPRD Jatim, Senin (5/12) siang tadi.

Rencananya, sidang paripurna DPRD Jatim yang akan membahas pergantian ketua F-PD tersebut akan dilaksanakan tanggal 19 Desember mendatang.

Menurut Iskandar, rotasi atau pergantian posisi tersebut merupakan hal wajar dalam sebuah partai. Ia membantah bahwa pergantian ketua fraksi memiliki keterkaitan dengan perseteruan dua kubu yang selama ini terjadi di tubuh Partai Demokrat Jatim, yakni kubu HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia).

Ia juga membantah bila pergantian ketua FPD itu merupakan grand scenario untuk persiapan Pilgub Jatim 2013 yang akan dipilih langsung oleh DPRD.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua DPD PD Jatim menyampaikan akan melakukan pergantian pimpinan FPD DPRD Jatim. Hal itu Ia nyatakan setelah dirinya memastikan telah meneken surat keputusan pergantian ketua fraksi.

Saat itu santer dikabarkan Ketua Komisi E DPRD Jatim Ahmad Iskandar menggantikan Lilik Muharti sebagai Ketua F-PD DPRD Jatim.

Menurut dia, pergantian posisi ketua fraksi merupakan wewenang dan otoritas partai. Karena itulah ia menilai tidak ada yang salah dalam proses pergantian. Pergantian merupakan hak partai, dan tidak ada masalah bila dilakukan setiap waktu.

Pihaknya juga mengakui bahwa surat pergantian Ketua F-PD dari Lilik Muharti ke Ahmad Iskandar masih ada di tangan Ketua DPRD Jatim Imam Sunardhi. Hanya saja, sampai saat ini surat tersebut belum masuk ke Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Jatim. (rid/Li-12/rud)

Rabu, 26 Oktober 2011

Achsanul Qosasi Resmikan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Pojur


Sumenep – Achsanul Qosasi, Ketua Dewan Pembina Lembaga Pojur (Program Jaringan Usaha Rakyat) secara resmi membuka Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Pojur. Acara ini ditandai pengguntingan pita di kantor PKBM Pojur bertempat di Desa Benasare, Rubaru, Sumenep, Minggu malam (09/10).

Achsanul Qosasi yang juga anggota DPR RI Dapil XI Madura – Jawa Timur ini mengatakan, pendirian PKBM ini bertujuan meningkatkan taraf pendidikan masyarakat terutama di perdesaan. Dimana selama ini belum tersentuh oleh pendidikan formal.

“PKBM Pojur hadir untuk mensetarakan pendidikan masyarakat, agar tidak tertinggal dan bisa bersaing di era modern sekarang ini. Dengan adanya peningkatan pendidikan masyarakat, otomatis akan meningkatkan taraf hidup masyarakat itu sendiri,” ujar Achsanul Qosasi yang saat ini menjabat menjabat Wakil Ketua Komisi XI DPR RI.

Menurut Achsanul Qosasi, PKBM Pojur terdiri dari program kesetaraan paket A, B dan C. Selain itu juga PKBM Pojur bergerak dalam pengembangan life skill, yaitu program Kursus Teknologi dan Informatika, Kursus Komputer, Kursus Bahasa Inggris dan program profesi.

“Kalau kita keluar negeri, pasti yang dibutuhkan adalah kepintaran bahasa inggris dan komputer. Insya Allah jika hal ini bisa dipenuhi, tentunya akan memiliki daya saing yang tinggi. Sehingga anak-anak kita semua bisa maju dan berkembang,” terang pria kelahiran Daramista, Lenteng, Sumenep ini.

Saat peresmian PKBM Pojur, Achsanul Qosasi didampingi oleh Fauzi (Direktur PKBM Pojur), KH. Zaini (Pimpinan Ponpes Nurul Muclishin) dan H. Imron (Anggota DPRD Sumenep). Tampak Achsanul Qosasi juga secara simbolik memberikan tanda peserta kepada tiga orang yang mengikuti PKBM Pojur.

Sementara itu, Fauzi Direktur PKBM Pojur menjelaskan, bahwa PKBM ini pada awal-awal akan di fokuskan di satu kecamatan. Namun nantinya akan dikembangkan di mayoritas kecamatan yang pendidikannya masih lemah.

“Kami harapkan dengan berdirinya PKBM Pojur ini mendapatkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Terutama tokoh masyarakat, ulama, pemerintah daerah dan peserta didik yang mau belajar bersama PKBM Pojur,” ujar Fauzi.

PKBM Pojur menurut Fauzi juga akan bekerjasama dengan sekolah-sekolah dalam membatu peningkatan pendidikan terutama dalam hal kecakapan hidup siswa. Kalau siswa-siswa memiliki keterampilan, yang bisa menunjang belajar-mengajar.

“Tentunya akan berdampak pada tingkat serapan tenaga kerja yang lebih handal dan mumpuni. Memiliki daya saing dan wawasan yang lebih luas,” tegas pria yang ahli dalam bidang Teknologi, Informasi dan Komputer. (rud)

Pengurus Demokrat Sumenep Santuni 99 Anak Yatim


Sumenep - Pengurus Partai Demokrat Sumenep, menyantuni 99 anak yatim, Jumat, sebagai rangkaian kegiatan untuk memperingati hari ulang tahun ke-10 partai politik pemenang Pemilu 2009 itu.

"Kami tidak fanatik dengan angka. Namun, Partai Demokrat memang dilahirkan pada 9 September. Oleh karena itu, kami sengaja memberikan santunan kepada 99 anak yatim guna memudahkan kami dalam mengingat hari ulang tahun partai kami," kata Sekretaris DPC Partai Demokrat Sumenep, Abd Aziz Salim Sabibie di Sumenep.

"Nuansanya memang serba sembilan. Kami juga sengaja memulai syukuran HUT partai kami pada pukul 09.00 WIB. Hidangan yang dimakan bersama oleh para pengurus adalah sembilan nasi tumpeng," ujarnya menambahkan.

Selain menyantuni 99 anak yatim, pengurus Partai Demokrat Sumenep juga membagi-bagikan bingkisan berisi beras sebanyak tiga kilogram kepada warga kurang mampu, termasuk tukang becak yang beroperasi di Kecamatan Kota.

"Kami menyiapkan satu ton beras untuk dibagi-bagikan kepada warga kurang mampu. Sebagian bingkisan berisi beras itu disalurkan melalui pengurus anak cabang (tingkat kecamatan)," ucapnya, menerangkan.

Aziz juga mengemukakan, pihaknya berencana menggelar turnamen sepak bola kelompok usia 15-18 tahun di masing-masing daerah pemilihan (dapil).

"Di Sumenep terdapat tujuh dapil. Nantinya, juara pertama di masing-masing dapil akan dipertemukan di tingkat kabupaten," paparnya.

Turnamen sepak bola dalam rangka memperingati HUT ke-10 Partai Demokrat yang digagas pengurus Partai Demokrat Sumenep itu akan dibuka secara simbolis dari Kecamatan Kota pada 18 September mendatang.

"Pada 18 September itu pula, kami menggelar jalan-jalan sehat di Kecamatan Kota dengan rute keliling kota," kata Aziz, mengungkapkan. (*/rud)

Perempuan Demokrat Sumenep Bagi-Bagi Takjil Gratis


Sumenep – Sekitar tiga puluh orang perempuan berjaket biru bergambar segitiga biru memberikan 500 takjil gratis di Jl Trunojoyo – Sumenep, Selasa (24/8) lalu. Relawan perempuan itu mengaku dari Dewan Pimpinan Cabang Perempuan Demokrat Republik Indonesia (DPC) PDRI Sumenep.

“Kegiatan sosial ini dalam rangka meningkatkan kepedulian dan berbagi antar sesama. Kegiatan ini akan kami lakukan secara rutin setiap bulan puas,” kata Ferry Kuswandani, Sekretaris DPC PDRI Sumenep.

Mantan presenter stasiun televisi Madura Channel ini mengatakan, pembagian takjil gratis ini sebenarnya bukanlah apa-apa. Yang terpenting adalah adanya kebersamaan dari kader demokrat terutama kader perempuan-nya untuk memberikan peran sosial.

“Pembagian takjil ini kita berikan kepada tukang becak, PKL, polisi dan masyarkat sekitar yang lewat di kantor kami (red-Jl. Trunojoyo). Acara sukses dalam hitungan jam, takjil yang kami sediakan tersalurkan semua,” ujar Ferry yang biasa dipanggil Ve ini.

Terlihat saat pembagian berlangsung, para Perempuan Demokrat Sumenep memberikan kepada masyarakat umum dengan nada halus. “Ini pak ambil dua, satu untuk bapak dan satu untuk teman bapak,” kata Herliana Dewi saat memberikan takjil gratis tersebut.

Selain dihadiri Perempuan Demokrat Sumenep, tampak hadir beberapa pengurus DPC Partai Demokrat Sumenep mendampingi kegiatan tersebut. Diantaranya, Yusuf Ismail (Wakil Ketua), Moh Hasanuddin (Bidang), Syamsul Arifin (Wakil Sekretaris), KH. Sabet (Bendahara), Imam (Wakil Bendahara), Ahdi (PAC Batang-Batang) dan Hamsani (PAC Kangayan).

“Kami pengurus DPC sangat menyambut positif kegiatan bagi takjil gratis ini, Insya Allah kita laksanakan rutin setiap tahunnya. Bahkan ditingkatkan lagi jumlahnya,” terang Yusuf Ismail, Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Sumenep.

Setelah pembagian takjil gratis selesai para Perempuan Demokrat Sumenep yang masih muda-muda ini, melanjutkan pada acara bubar (buka puasa bareng) di kantor DPC Partai Demokrat Sumenep. (rud)

Saat Serap Aspirasi Kyai Imam Serukan Dukung Achsanul


Sumenep - Saat Buka Puasa Bersama Partai Demokrat Sumenep dan Masyarakat Pojur di Hotel Suramadu, Jum'at lalu (12/8), KH. Imam Mawardi, menyampaikan dukungan politik kepada Achsanul Qosasi. Wakil Ketua Komisi XI (Keuangan dan Perbankan) ini kata, KH. Imam Mawardi, satu-satunya Wakil rakyat dari Dapil XI Madura yang memiliki integritas dan komitmen perjuangan yang jelas untuk pembangunan Madura.

"Saya tak ragu lagi memilih pak Achsanul, karena setiap saya hubungi terkait masalah-masalah di Madura beliau langsung merespon cepat," kata Kyai asal Pore Lenteng ini sambil menyerukan kepada peserta yang hadir untuk memilih Achsanul Qosasi kembali.

Guru Motivasi diri ini juga menyerukan kepada peserta buka puasa bersama untuk, menyampaikan aspirasi kepada saudara Achsanul Qosasi secara langsung. "Insya Allah akan direspon dengan cepat dan dilayani dengan baik, jarang ada wakil rakyat seperti beliau (red-Achsanul Qosasi)," terang KH. Imam Mawardi.

Pernyataan KH. Imam Mawardi ini mendapat sambutan tepuk tangan dan teriakan keras dari peserta silaturrahim dan buka puasa bersama tersebut. "Hidup Achsanul, Hidup AQ (red-singkatan Achsanul Qosasi), Hidup Demokrat," teriak Yono Wirawan, dari Pemuda Pojur.

Sementara itu, Achmad Iskandar Penasehat Pojur (Program Jaringan Usaha Rakyat) salah satu organisasi binaan Achsanul Qosasi menyatakan, pernyataan KH. Imam Mawardi tidak salah dan benar adanya. "Achsanul memang pantas dipilih kembali padi pileg 2014 yang akan datang. Perjuangan beliau untuk Madura sungguh total penuh komitmen," ujar Iskandar.

Achsanul Qosasi, kata Iskandar, sebagai wakil rakyat di bidang keuangan dan perbankan, mati-matian memperjuangkan anggaran pembangunan di Madura. "Terutama dukungan pembangunan infrastruktur jalan, fasilitas umum, rest area di Suramadu, serta kepedulian pada pendidikan dan percepatan pembangunan ekonomi Madura," pungkas pria yang dipenuhi rambut putih ini.

Selanjutnya H. Humaidy, kader muda NU Sumenep juga mendukung pernyataan KH. Imam Mawardi. katanya, Achsanul Qosasi adalah tokoh muda paling menonjol ditengah situasi politik yang berkembang. "Pak Achsanul mampu menunjukkan komitmen moral yang kuat serta integritas tinggi," ujar Humaidy yang pernah menajdi Ketua Garda Bangsa Sumenep.

Menurutnya, Achsanul Qosasi terbukti dirinya sering diajak bicara Presiden SBY, terkait solusi penyelesaian masalah bangsa. Baik bidang politik, ekonomi, hukum, keuangan-perbankan dan bahkan masalah olahraga.

"Saya tak ragu lagi memilih Achsanul Qosasi pada pemilu mendatang," kata Humaidy dengan jujur, saat hadir acara buka puasa bersama Achsanul Qosasi.

Saat acara berlangsung Achsanul Qosasi memberikan bingkisan lebaran kepada pengurus PAC Partai Demokrat dan pengurus kecamatan Pojur. Serta Perempuan Demokrat, Pengurus DPC Partai Demokrat, Pengurus Pojur dan ulama/tokoh masyarakat. (rud)

Gelar Safari Ramadhan, Achsanul Qosasi Temui Konstituen



Bangkalan – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Daerah Pemilihan XI Madura Jawa Timur, Achsanul Qosasi di bulan puasa menggelar safari Ramadhan dengan menemui kostituen-nya di Madura. Acara ini digelar dalam rangka menyerap aspirasi dan memperkuat jalinan silaturim dengan ulama, tokoh masyarakat dan kader partai.

“Saya dibulan puasa ini keliling Madura untuk turun menemui ulama, tokoh masyarakat dan kosntituen. Tujuannya adalah ingin mendengar secara langsung akan harapan dan suara dari bawah,” kata Achsanul Qosasi, saat temui di Bangkalan, Senin (9/8).

Ketua Dewan Pembina Lembaga Sosial POJUR (Program Jaringan Usaha Rakyat) ini sengaja menggelar acara tersebut di empat Kabupaten di Madura (Bangkalan 9 Agustus, Sumenep 10 dan 12 Agustus, Sampang 11 Agustus, Pamekasan 13 Agustus). Acara ini juga diselingi dengan buka puasa bersama dan sholat mangrib berjamaah.

“Acara kita kemas non formal dan sekedar silaturrahim biasa, kami juga akan menerima masukan ulama dan tokoh masyarakat terutama di bulan puasa ini. Termasuk aspirasi dan masukan terhadap pemerintah pusat,” ujar Achsanul.

Pria kelahiran Lenteng Sumenep yang juga anggota Fraksi Partai Demokrat ini mengatakan, dirinya adalah wakil dari Partai Demokrat yang menjadi pendukung utama pemerintah. Sebagai kader partai dirinya wajib mendengar keinginan dan harapan masyarakat Madura. Terutama perihal percepatan pembangunan paska dibangunnya jembatan Suramadu.

“Saya hadir dan turun ke masyarakat adalah tugas kosnstitusional sebagai wakil rakyat. Nantinya saya akan lebih banyak mendengar dari masyarakat terutama terkait isu-isu politik, sosial dan pemerintahan,” terang Achsanul. (rud)

Kamis, 04 Agustus 2011

RIBUAN WARGA SUMENEP IKUTI BAKSOS POJUR


Sumenep - Sebanyak 1500 warga Sumenep, mengikuti bhakti sosial (baksos) yang digelar POJUR bekerjasama dengan Lion Club Internasiol, Surabaya, Minggu (17/07) kemarin.

Ketua Pojur Sumenep, Ir. Achsanul Qasasi menjelaskan, kegiatan baksos yang dilakukannya itu berupa pengobatan gratis, khitanan massal, pemberian alat bantu dengar, kaca mata baca secara gratis, katarak dan bibir sumbing.

“Semua kegiatan itu disebar di 3 titik, yakni Kantor POJUR sendiri, Pondok Pesantren Al-Ashar dan Aula Kesenian RRI Sumenep.

Program ini memang dikhususkan bagi warga Sumenep yang kurang mampu. Mereka yang ikut didalamnya tidak dipungut biaya sepersen pun,”kata Achsanul Qasasi, pada wartawam di Kantor POJUR Sumenep, Minggu (17/07) kemarin.

Achsanul yang juga anggota DPR-RI dari Daerah Pemilihan XI Madura itu mengemukakan, tujuan dilaksanakannya baksos tersebut, untuk meningkatkan jaringan sosial dimasyarakat kurang mampu, utamanya dibidang kesehatan.

“Kita ketahui kalau tingkat kesehatan dikalangan masyarakat Sumenep masih rendah. Sehingga ada sebagian warga yang mengidap penyakit bawaan seperti halnya bibir sumbing dan benjolan dikepala. Nah, penyakit itulah yang kami upayakan mendapat pelayanan kesehatan secara gratis, selain sunnatan massal,” terangnya.

Untuk pasien bibir sumbing, kata Achsanul, langsung ditangani secara detail hingga dioperasi, tanpa mengeluarkan biaya satu rupiah pun.

“Kegiatan baksos tersebut, kami agendakan menjadi program rutin tahunan pojur. Jadi, baksos kali ini pertama kali dilakukan di Sumenep, selanjutnya akan bergeser ke Pamesakan, Sampang dan Bangkalan. Kami upayakan seluruh warga kurang mampu di Madura bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis,”ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut, POJUR bersama Lion Club Internasional, juga memberikan sosialisasi mengenai kanker serviks, bagi kaum hawa di Kabupaten Sumenep. (*/rud)

Jumat, 17 Juni 2011

Dari Aktifis, Pelaku Media dan Ketua Partai Termuda di Jatim

Sosok Syafrudin Budiman, SIP

Syafrudin Budiman, SIP. Anak muda ini di kalangan Muhammadiyah Jawa Timur memang dikenal berbakat dalam dunia politik. Sejak aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tahun 2002.

Ia terkenal sebagai aktifis IMM yang pernah ditangkap oleh Polres Surabaya Utara karena terlibat demo memperjuangkan nasib buruh. Ia juga terkenal dengan wacana-aksi politik dari isu kampus sampai politik nasional.

Selanjutya ia sempat berhenti dari dunia aktifis (demonstran) dan aktif di bidang jurnalis. Tepatnya bekerja di Surabaya News (sekarang Surabaya Post) selama tujuh bulan. Namun, karena terpilih dan dapat amanah sebagai formatur terbanyak dalam Muscab Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Surabaya, ia kembali terjun dalam wadah gerakan mahasiswa.

Padahal dirinya tidak pernah mendaftar sebagai calon formatur. Akan tetapi seniornya Choirul Anam mantan Ketua Umum PC IMM Surabaya (sekarang anggota KPUD Surabaya), memasukkan namanya sebagai formatur. Mengingat Syafrudin dinilai berbakat dalam dunia politik dan direncanakan masuk di jajaran kepengurusan PC IMM Surabaya.

Pria kelahiran Sumenep 21 Mei 1980 ini akhirnya aktif kembali dan terpilih jadi Ketua Hikmah (Bidang Politik dan Sosial Kemasyarakatan) IMM Surabaya dan berlanjut ke DPD IMM Jawa Timur sebagai Ketua Bidang Hikmah. Rudi Acong, begitu koleganya memanggilnya namanya, akhirnya memilih lebih fokus di IMM dan meninggalkan dunia jurnalistik.

Pada Muktamar IMM ke XII 2006 di Ambon ia menjadi Ketua Presedium Sidang dan dipercaya sebagai Pengurus Pusat IMM masa bakti 2006-2008. Bahkan dirinya sempat bergabung ke PAN Jawa Timur karena keterkaitan dengan Muhammadiyah. Ketika ditanya kenapa mundur dari PAN? Ia menjawab, "Saya ini kader IMM, kalau IMM dan AMM bikin partai, kenapa saya tidak bergabung."

Wong ini rumah saya sendiri yang baru. Rumah lama saya sudah di jual dan berpindah tangan," ujar lulusan Sarjana Ilmu Politik FISIP Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Nama dan tampang Syafrudin Budiman sering menghiasi media cetak dan elektronik ketika menjadi aktifis. wacana dan statemen-nya sering masuk di media-media lokal, nasional dan bahkan internasional. Terkait isu-isu politik dan pemerintahan.

Bahkan pernah ia kena semprit karena mengundang (alm) Munir ke SMU Muhammadiyah Pucang Surabaya yang kritis terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan negara dengan mengunakan tangan tentara. Selain itu soal statemen-nya di media LKBN Antara yang menyatakan Muhammadiyah Jawa Timur tidak ada masalah, jika partai baru lahir dari Angkatan Muda Muhammadiyah.

Semua orang tidak ragu lagi ketika Syafrudin Budiman dipercaya sebagai Sekretaris Inisiator Partai Matahari Bangsa (PMB) Jatim dan Sekretaris Pimpinan Wilayah PMB Jatim. Selain memang berbakat dalam dunia politik, dirinya juga lahir dari kalangan keluarga Politisi Muhammadiyah. Saat ia menjadi pendiri PMB usianya masih 26 tahun dan ia juga masih menjabat Ketua Bidang Sosek Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah periode 2006-2008.

Disaat usianya 31 tahun dirinya terpilih sebagai Ketua (Pj) Majelis Imarah Pimpinan Wilayah Partai Matahari Bangsa (PW PMB) Jawa Timur melalui reshuffle kepengurusan. Syafrudin saat ini adalah salah satu ketua partai termuda di Jawa Timur dari 34 parpol yang ada di Jawa Timur. Dirinya dipilih untuk menggantikan Mufti Mubarok karena terlibat aktif pada pendirian partai Nasdem dan Ormas Nasional Demokrat.

Wajar saja jika Syafrudin yang juga Konsultan Politik dan Media ini dipilih menjadi Ketua PW PMB Jawa Timur. Karena komitmen dan konsitensi perjuangannya tidak hanya mengedepankan gerakan prgamatis semata, tetapi tetap dalam gerakan politik istiqomah.

Dalam Rapimnas Partai Matahari Bangsa 30 April – 01 Mei 2011 di Hotel Gren Alia Cikini Jakarta, ia menyampaikan pidato politiknya. “Warga Muhammadiyah dan generasi muda-nya tidak bisa berpijak pada kaki orang lain, namun harus berpijak pada kaki sendiri. Mengingat cita-cita dan tujuan Muhammadiyah tergantung para kadernya. Termasuk keterlibatannya dalam dunia politik kebangsaan,” terang Syafrudin disambut aplaus dari peserta Rapimnas.

Sebelumnya Syafrudin menjadi Calon Anggota Legestalif (caleg) Daerah Pemilihan VIII (Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Jombang, Kabupaten Madiun dan Kota Madiun) nomor urut 1, tetapi gagal terpilih. Namun dirinya tak pernah menyerah dan frustasi dalam perjuangan kerakyataan dan kebangsaan.

Aktif sebagai Konsultan Media dan Politik

Dengan pengalamannya dibidang media dan politik, Syafrudin kembali kedua gerakan intelektual dengan menjadi Analis Pemerhati Sosial Politik dan Media sebagai profesi dan mata pencahariannya. Dirinya sering diundang oleh TV, Radio dan media cetak untuk mengisi dialog dan wawancara tentang situasi politik lokal dan nasional.

Beberapa media tersebut diantaranya, JTV, Madura Channel, RRI, Nada FM, Suara Surabaya, Radio Muslim Surabaya dan berbagai media cetak dan eletronik lainnya. Syafrudin juga spesialis bidang media dalam Tim Kampanye dan Politik Personal Branding bagi calon bupati dan wakil bupati, serta anggota DPR RI, DPRD Jatim dan DPRD Kabupaten/Kota.

“Sebagai analis media dan sosial politik saya sangat senang, sehingga bisa menyampaikan ide, gagasan dan bahkan kritik,” kata pria yang gemar musik hard rock ini.

Lahir dari keluarga Tokoh Muhammadiyah.

Syafrudin adalah cicit dari (Alm) KH.Mas Mansur, Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah jaman kemerdekaan, yang juga Inspirator berdirinya Majelis Islam A'la Indonesia (MAIA) yang bermetamorfosa menjadi MASYUMI.

Kakenya (Alm) Ust. H. Abd.Kadir Muhammad (AKM) adalah Dai mantan Ketua PD Muhammadiyah Sumenep-Madura yang juga anggota DPRD Sumenep dari MASYUMI. Bahkan Bapaknya Ust. Zainudddin pernah menjadi Ketua PCM Sumenep/Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah.

Sedangkan Mardiyah Ibunya adalah mantan Ketua Umum Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiah Sumenep (PD NA) periode 1992-1997. Kedunya sama-sama aktifis PII dan KAPPI/KAMMI tahun 66-67 dan sempat aktif di GPI underbow MASYUMI.

"Saya memang lahir dari keluarga politisi dan keluarga struktur Muhammadiyah, Malah yang mendorong saya bergabung ke PMB adalah keluarga. Ketika kami kedatangan KH. Imam Addaruqutni, Ketua Umum PP PMB di Sumenep Madura, yang menyambut hangat adalah keluarga besar AKM,” papar Koordinator Biro Politik DPD KNPI Jawa Timur ini. (tim)

Minggu, 17 April 2011

Achsanul : Pemda dapat pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan

Pamekasan - Pemerintah Daerah akan mendapatkan pengalihan Pajak Bumi dan Bangungan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2), serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Dimana pajak tersebut bisa menjadi masukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk kesejahteraan masyarakat.

Informasi ini disampaikan, Achsanul Qosasi, Anggota DPR RI Dapil XI Madura, Jawa Timur saat melakukan sosialisasi pengalihan PBB-P2 dan BPHTB, Rabu (14/04) di Pendopo Ronggosukowati, Pamekasan. Kegiatan ini adalah program Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan, Kementrian Keuangan Republik Indonesia.

Anggota Fraksi Partai Demokrat (FPD) ini mengatakan, dengan adanya sosialisasi ini diharapkan terjadi perbaikan dalam reformasi keuangan. Pemerintah Daerah nantinya akan banyak menerima sumber dari segi pengelolaan dan pemungutan pajak.

“Otonomi atau desentralisasi keuangan benar-benar menjadi kenyataan untuk kemakmuran rakyat di daerah,” kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI ini.

Menurut Achsanul juga diharapkan program pengalihan PBB-P2 dan BPHTB bisa membuat lebih efektif dan efisien dalam manajemen pengelolaan keuangan pajak. Sehingga sistem pengawasan akan lebih baik dan pertanggung jawabannya akan lebih jelas.

“Tentu ini akan mengurangi terjadinya kebocoran, mengingat hasil sumber pajak langsung di terima daerah. Rakyat bisa mengontrol secara langsung nantinya,” terang pria kelahiran Sumenep, Madura ini.

Kata Achsanul, ada lima pilar untuk membangun pemerintah yang kuat. Diantaranya, ekskutif, legeslatif, yudikatif, media dan kelompok masyarakat (civil society). Jika semua bergerak sebagaimana fungsinya masing-masing tentu Negara kita akan kuat.

“Kelima pilar tersebut harus bisa kerjasama dan saling menguatkan. Jangan sampai malah terjadi saling melemahkan,” pungkas Achsanul.

Achsanul menambahkan, pengembalian pajak pusat ke daerah ini Pemerintah Daerah diharapkan pengelolaan keuangan dikembalikan kembali ke desa dan kecamatan. Agar pembangunan infrastruktur di desa bisa lebih berkembang dan roda perekonomian bisa berjalan maksimal.

“Penerapan UU Nomor 28 tahun 2009, tentang pajak yang dikembalikan kepada daerah untuk kesejahteraan masyarakatnya, terutama yang berada di desa dan kecamatan,” tegas Achsanul yang juga pengurus pusat PSSI. (rud)

Rabu, 06 April 2011

DPR Panggil BI dan Citibank Terkait Premanisme

Jakarta – Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) akan memanggil pihak Bank Indonesia (BI) dan Citibank, terkait kasus meninggalnya nasabah yang diduga disiksa oleh debt collector kartu kredit.

Rencananya pihak terkait akan dipanggil untuk penuntasan kasus tersebut, untuk mengetahui cara penanganan kredit macet dalam sistem Perbankan Indonesia.

Hal ini disampaikan Achsanul Qosasi, Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI saat dihubungi melalui telepon selulernya di Jakarta, Senin (04/04).

“Cara-cara premanisme harus segera dihentikan. BI harus segera mengeluarkan edaran yang berpihak kepada nasabah,” ujar Achsanul biasa kolega dekat memanggilnya.

Menurutnya, apabila ada nasabah “nakal”, itu sudah diatur dalam UU. Jangan pernah mengajak preman dalam sistem perbankan kita. Mengingat hal tersebut akan merusak sistem investasi dan menjatuhkan citra dunia usaha.

Kata anggota Fraksi Partai Demokrat berharap kedepan, bentuk non performing asset sales atau penjualan kredit macet perbankan kepada pihak lain harus diatur.

Bank tidak bisa menjual kreditnya tanpa persetujuan nasabah. Mengingat perjanjian kredit (PK)-nya hanya ditandatangani oleh nasabah dan pihak bank yang bersangkutan. Tentunya tidak diperkenankan melibatkan pihak lain.

“Macetnya suatu kredit seringkali bukan semata mata kesalahan nasabah, tetapi juga bank berperan di dalamnya,” pungkas Wakil Rakyat dari Madura ini.

Achsanul mengatakan, masih banyak langkah langkah penyelesaian yang dapat diambil oleh pihak bank. Misalnya, Reconditioning (Perubahan Persyaratan), Rescheduling (Penjadualan ulang), Restucturing (perubahan struktur kredit), Injection (Penambahan Plafond) dan lainnya.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut, harus dilakukan oleh pihak perbankan dan merupakan kewajiban bank dalam membina nasabahnya. Namun, terkadang pihak bank seringkali mengambil jalan pintas dengan eksekusi dan menyerahkan kepada pihak lain dengan penagihan secara premanisme.

“Sering kali nasabah ditakut takuti, diancam, diganggu, diteror atau dengan cara cara lain yang membuat nasabah takut dan malu. Celakanya cara-cara ini banyak dilakukan oleh Bank Asing,” terang Achsanul dengan nada kesal.

Kata Achsanul, Bank Asing telah banyak sekali mengeruk keuntungan dari nasabah-nasabah dan memancing dengan “janji janji manis.” Sehingga akhirnya banyak rakyat kita terjerat dalam perangkat jebakan ekonomi yang tiada berujung. Denda dibesarkan, biaya-biaya aneh dikemas dalam bentuk fee dan penalty.

“Praktek seperti tak bisa diteruskan lagi, untuk itu kami akan memanggil pihak terkait untuk mengevaluasi semuanya,” tandas Bendahara PSSI ini.

Seperti diketahui, Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB) Irzen Octa (50) tewas saat memroses penagihan kredit ke Citibank. Korban pada Selasa (29/3) pagi mendatangi kantor Citibank untuk melunasi tagihan kartu kreditnya yang membengkak.

Menurut korban, tagihan kartu kredit Rp 48 juta. Namun pihak bank menyatakan tagihan kartu kreditnya mencapai Rp 100 juta. Disana, korban kemudian dibawa ke satu ruangan dan ditanya-tanya oleh 3 tersangka. Usai bertemu 3 tersangka, korban kemudian tewas. (rud)

Rabu, 30 Maret 2011

Achmad Iskandar Bantu Kelompok Tani Hand Sprayer

Reses Anggota DPRD Jatim

Sumenep – Ruang Aspirasi Rakyat

Anggota DPRD Propinsi dari Dapil XI Madura Jawa Timur, Drs. Achmad Iskandar, M.Si saat reses serap aspirasi, memberikan membantu alat pertanian berupa hand sprayer untuk kelompok tani. Sumbangan itu diberikan kepada 60 kelompok petani saat acara reses di Desa Gingging, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep.

“Bantuan ini saya berikan secara pribadi agar petani mampu meningkatkan produktifitas pertaniannya. Agar saat panen meningkat dan memperoleh hasil yang maksimal,” ujar Achmad Iskandar, Minggu (27/03).

Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur ini mengatakan, petani merupakan sektor mata pencaharian utama masyarakat. Jika panen berhasil, tentu roda perekonomian di perdesaan akan berjalan lancar.

“Petani di Kabupaten Sumenep mencapai mayoritas 75 persen dan sisanya di sektor-sektor lainnya, tentu Pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan didukung legeslatif akan berpihak pada petani,” terang Iskandar yang berasal dari Partai Demokrat.

Dalam reses menjaring aspirasi masyarakat banyak melakukan dialog dengan kelompok-kelompok tani. Banyak diantara mereka yang hadir menyampaikan aspirasinya. Mulai dari pertanyaan tentang pembangunan infrastuktur petani, peternakan, bantuan modal usaha, kesehatan dan pendidikan.

“Kami berharap kepada Bapak Iskandar bisa memperjuangkan kepada pemerintah untuk men-stop impor palawija, jagung, padi, kedelai dan daging. Yang perlu dilakukan adalah membantu petani dalam bentuk peningkatan teknologi pertanian, agar produktifitasnya meningkat,” kata Matlub Ansori, Ketua Kelompok Tani Nusantara.

Secara sigap, Achmad Iskandar menjawab pertanyaan tersebut. Ia mengatakan, Soekarwo, Gubernur Jawa Timur sudah menerapkan peraturan yang melarang barang-barang impor tersebut masuk Jatim. Namun, perihal kebijakan pusat yang bertentangan akan menjadi masukan dalam reses untuk disampaikan kepada Pemerintah Pusat.

“Di Jatim telah melarang impor beras, daging dan lainnya. Ini telah menjadi komitmen eksekutif dan legeslatif di Jatim. Pemerintah secara komitmen terus akan berpihak kepada petani,” pungkas Iskandar yang juga mantan Kepala Biro AP Pemerintah Propinsi Jatim.

Acara reses ini juga dihadiri perwakilan dari PT Bisi Internasional, Kediri, Jawa Timur yang telah bekerjasama dengan beberapa kelompok petani di Desa Ging-ging, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. (rud)

Senin, 28 Maret 2011

DPR Akan Sempurnakan RUU AP Seperti di Amerika


Dubai – Panitia Kerja (Panja) Akuntan Publik Komisi XI DPR RI akan menyempurnakan Rancangan Undang-Undang Akuntan Publik (RUU AP) seperti di Amerika. Mengingat Amerika Serikat (AS) memang sudah lebih sempurna dalam regulasi keuangan.

Hal ini disampaikan Achsanul Qosasi, Ketua Rombongan Kunjungan Kerja Panja Akuntan Publik ke Amerika dan Inggris, melalui rilis elektroniknya, Sabtu, (26/03). Saat transit di bandara Dubai, pulang menuju Jakarta.

“Produktifitas parlemen Amerika terhadap UU tidak banyak, karena hampir semua sudah diatur. Sehingga mereka hanya melakukan penyempurnaan (revisi) dalam regulasi UU AP-nya,” ujar Achsanul Qosasi yang juga Wakil Ketua Komisi XI (Keuangan dan Perbankan) DPR RI.

Menurutnya, di Amerika saat ini memiliki perangkat sistem pengawasan dan transparansi yang cukup. Diantaranya, American Institute of Certified Public Accountants (AIPCA) yang bertugas mengkaji sistem pemeriksaan, code of conduct dan standar audit dengan anggota 130 negara.

“Kalau di Indonesia kita sama dengan IAPI (Ikatan Akuntan Publik Indonesia),” pungkas anggota Fraksi Partai Demokrat (FPD) ini.

Selanjutnya kata Achsanul Qosasi, di Amerika memiliki lembaga bernama Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) untuk mengawasi Konsultan Akuntan Publik (KAP), yang listed di pasar modal. Saat ini sudah ada sembilan KAP Indonesia yang sudah terdaftar di PCAOB.

Selain itu di Amerika juga memiliki lembaga bernama SEC (Security Exchange Commision), semacam Bapepam kalau di Indonesia. Dan terakhir Amerika memiliki lembaga Government Accountability Office (GAO) seperti Badan Pemerika Keuangan (BPK).

“Untuk masalah perijinan di Amerika tetap dari Federal State (Pemerintah), sehingga kita tidak perlu menyerahkan perijianan pada Council seperti yang selama ini di perdebatkan. Pemerintah tetap harus mendapat pertimbangan dari Badan Pengawas yang nanti akan kita bentuk,” terang Achsanul Qosasi, pria kelahiran Sumenep, Madura ini.

Menurut mantan Direktur Bank Persyarikatan ini, untuk KAP asing nantinya harus mengikuti pola kita. Termasuk keanggotaan mereka di IAPI. Apabila mereka mamapu mengatur KAP kita, tentu kita juga harus mampu mengatur KAP mereka yang masuk ke Indonesia.

recieprocal-nya jangan seperti selama ini, yang sangat tidak berimbang sama sekali,” terang Achsanul Qosasi yang berharap kedepannya terjadi perbaikan sistem Akuntan Publik. Sehingga nantinya KAP di Indonesia bisa dihandalkan di mata dunia internasional.

Sementara untuk pidana, mereka menyerahkan pada PCAOB dan tetap berdasar pada KUHAP. UU AP Amerika (Sarbanas Oxley Act) tidak mengatur teknis, sehingga peran lebih besar, ada pada PCAOB yang merupakan lembaga bentukan Kongres AS.

“Ini akan kita contoh dalam pembentukan lembaga, yang nantinya dimasukkan dalam salah satu pasal dalam RUU AP kita. Cuma akan berbeda dengan kita, karena SEC (Bapepam) di AS merupakan lembaga independen. Sedangkan di Indonesia dibawah koordinasi Menteri Keuangan,” Jelas pengusaha bidang mikro pertanian ini.

Achsanul Qosasi mengungkapkan bahwa, Kongres AS menyetujui UU AP tersebut secara mutlak dengan perolehan suara 423 setuju dan 3 menolak. Diharapkan proses penyempurnaan RUU AP bisa berjalan lancar dan sesuai waktunya. (rud)

Rabu, 23 Maret 2011

Kewirausahaan Peternakan untuk Swasembada Daging

Sumenep –

POJUR (Program Jaringan Usaha Rakyat) akan meningkatkan kewirausahaan peternakan untuk mendukung program pemerintah meningkatkan dan mengembangkan swa-sembada daging. Dimana POJUR melakukan pelatihan kewirausahaan peternakan sapi dan kambing.

“Dari satu sisi kami membantu program pemerintah menggalakan swa-sembada daging. Disatu sisi memberdayakan masyarakat khususnya kaum muda untuk belajar berwirausaha di bidang peternakan,” kata Nasiruddin Abbas, Direktur Eksekutif POJUR. Saat melakukan Pelatihan Kewirausahaan Peternakan di Rumah Aspirasi POJUR Jl. Dipenogoro 104 Sumenep, Selasa (22/3).

Menurut Nasir yang biasa dipanggil sahabatnya mengatakan, pengembangan peternakan sapi dan kambing prospek bisnisnya sangat bagus kedepan. Sehingga hal tersebut, bisa dikembangkan ke kecamatan jaringan POJUR, untuk memberdayakan dan meningkatan ekonomi anggota.

“Oleh karena itu sebelum mereka masuk pada pemeliharaan ternak. Tentu diperlukan pelatihan dan diharapkan bisa memiliki referensi yang kuat di bidang peternakan. Agar nantinya tidak salah langkah,” ujar Nasir.

Sementara itu, Achmad Alwan, Pengusaha Peternakan Sapi dan Kambing yang diundang dalam pelatihan mengatakan, menggeluti usaha peternakan sapi saat ini sangat susah. Mengingat harga daging rendah disebabkan banyaknya impor daging yang datang dari Australia.

“Saya mengusulkan sementara waktu bisa menjadi peternak kambing, mengingat harga di pasaran masih stabil. Namun tidak menutup kemungkinan kedepan menjadi peternak sapi bisa lebih prospek secara bisnis,” terang Achmad Alwan pengusaha asal Gapura, Sumenep ini.

Pria yang pernah bekerja di perusahaan tambang Gold Division Rio Tinto Mining (1993-2006) ini menjelaskan bahwa, jika ingin berternak sapi dan kambing yang perlu disiapkan awal adalah kandang dan pakan ternak. Jika kedua syarat ini disiapkan tentu akan mempermudah pengembangan peternakan.

“Selanjutnya perlu disiapkan makanan yang memiliki kalori dan protein tinggi untuk meningkatkan bobot daging ternak. Jika ternak kita sakit juga perlu disiapkan obat-obatan yang memadai,” kata pengusaha yang memiliki sertifikat Green Belt, Six Sigma Procces dan Kepala Tekning Tambang.

Dihadapan peserta pelatihan yang antusias dirinya menyatakan, kalau ingin menjadi pengusaha sukses harus dimulai hari ini dan jangan menunggu besok. Harus punya kemauan dan komitmen yang kuat dalam mengembangkan usaha.

“Pikirkan suatu usaha setelah itu bertindak cepat, Insya Allah bisa sukses,” ujar Achmad Alwan.

Dirinya juga menyarakan pelaku usaha bisa menggunakan manejemen APES (Action, Problem, Evaluation and Solution. Action sebagai bentuk tindakan nyata dan tanpa menunggu waktu. Problem sebagai bentuk bahwa setiap melakukan usaha pasti akan datang kendala-kendala.

Selanjutnya, Evaluation sebagai bentuk upaya mengevaluasi dan menginstropeksi kelemahan. Terakhir adalah Solution sebagai bentuk upaya menyelesaikan masalah-masalah yang datang.

“Pikirkan suatu usaha setelah itu bertindak,” papar mantan karyawan perusahaan tambang LXML Gold & Copper, LAO PDR (2006-2007) ini. (rud)