Kamis, 25 September 2008
KLIPING SYAFRUDIN BUDIMAN : 100 Hari Pemerintahan Presiden Susilo, Koruptor Kakap Belum Disentuh
Surabaya, Kamis, 27 Januari 2005, 08:16 WIB
Barisan Oposisi Bersatu (BOB) Jawa Timur menilai, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga 100 hari pemerintahannya pada 28 Januari belum menyentuh koruptor kakap.
"Raport Pak Yudhoyono dalam 100 hari itu merah, karena hanya menyeret koruptor kelas teri seperti bupati dari kalangan sipil," kata koordinator BOB Jatim Safrudin Budiman di Surabaya, Kamis (27/1).
Dengan demikian, katanya, pemberantasan korupsi yang dikampanyekan Presiden Yudhoyono patut diberi skor 50, karena kasus korupsi seperti BLBI dengan kerugian negara mencapai triliunan tak disentuh. "Jadi, Pak Yudhoyono sebenarnya sudah melaksanakan upaya pemberantasan korupsi tapi belum serius, bahkan aparat penegak hukum-nya pun lemah, karena korupsi pada sejumlah yayasan militer juga dibiarkan," katanya.
Menurut aktivis Pemuda Muhammadiyah Jatim itu, skor di bidang hukum juga jelek yakni 50, karena penegakan hukum-nya kurang tegas. "Buktinya, mengusut kasus bom Marriott saja cukup cepat dan sudah ada tersangka, tapi pengusutan kasus kematian Munir SH tidak tuntas dalam 100 hari kepemimpinannya," katanya.
Di bidang ekonomi dan politik juga jelek, katanya, karena investasi asing belum mampu ditarik, tapi justru terkesan pemerintah Indonesia saat ini "dikendalikan" asing. "Investasi asing tak kunjung masuk, tapi Pak Yudhoyono justru banyak dikendalikan asing mulai dari soal KTT Tsunami, CGI, dan utang baru, padahal kalau mau mandiri sebenarnya bisa," katanya.
Oleh karena itu, katanya, bidang ekonomi dan politik layak diberi skor 55. "Skor yang agak lumayan adalah keamanan yang relatif stabil dengan nilai 70, karena bom tak ada dan kriminalitas rendah," katanya.
Kendati aman, katanya, skor Presiden Susilo di bidang demokratisasi cukup lemah dengan adanya aktivis mahasiswa ditangkap setelah membakar gambar presiden dan demonstrasi BBM dari mahasiswa tak ditanggapi. "Jadi, nilai demokratisasi pak Yudhoyono cukup dengan skor 50, karena demokrasi yang dijanjikan hanya retorika atau diplomasi. Skor di bidang pemerintah juga 50, karena koordinasi antar lembaga/menteri rendah," katanya.
Oleh karena itu, katanya, Presiden Susilo perlu memperbaiki "political will" yang masih retorika menjadi "logika materiil" di dalam realitas. "Kalau tidak, citranya akan terus menurun," katanya.(Ant/Nik)
http://www2.kompas.com/utama/news/0501/27/081619.htm
Selasa, 23 September 2008
Gelora Islam Sang Sastrawan Besar Madura, R. Musaid Werdisastro – Penulis Babad Sumenep




Gelora Islam Sang Sastrawan Besar Madura, R. Musaid Werdisastro – Penulis Babad Sumenep
Ditulis pada Maret 31, 2008 oleh Badrut Tamam Gaffas
Masjid Jamik Sumenep dan Asta tinggi adalah dua buah manikam sejarah keemasan syiar Islam di Pulau Madura yang berwujud arsitektur indah dan menawan, keduanya menjadi bagian tak terpisahkan dari tingginya peradaban Islam yang terlahirkan di tanah madura berabad-abad yang silam.
R. Musaid Seorang Pejuang Budaya
Diantara rekaman sejarah tentang Pulau Madura ternyata Babad Sumenep menjadi dokumen penting yang bisa dijadikan literatur awal untuk mempelajari madura khususnya sumenep secara lebih mendalam.
Raden Musaid adalah Sastrawan Legendaris yang berjasa menulis Babad Sumenep. Awalnya penulisan tersebut dimaksudkan sebagai upaya pelurusan sejarah terutama sejarah islam di sumenep dalam bingkai dinamika hubungan antar etnik yang berlangsung damai. Dalam Babad itu digambarkan pula tumbuh kembang sebuah komunitas masyarakat berperadaban dan berperilaku elok yang disebut Bangselok.
Sebagai Budayawan dan Pejuang secara cerdik Raden Musaid berupaya mengobarkan semangat perjuangan anti penjajahan kolonial belanda melalui simbol dan kiasan yang banyak terdapat dalam Babad yang dikarangnya, buku tersebut memang ditulis menggunakan Bahasa Madura dengan Aksara Jawa sehingga praktis pihak belanda menjadi gagap dalam menangkap maksud rahasia sang penulis, sebaliknya pemerintah hindia belanda memberikan apresiasi yang tinggi dan penghargaan kepada Raden Musaid berupa sejumlah Gulden dan sebuah Gelar “WERDISASTRO” .
Sejak itulah Raden Musaid dikenal sebagai R. Musaid Werdisastro, ketika tarikh masehi menginjak 15 Pebruari 1914 Naskah Babad Sumenep tersebut naik cetak dan diterbitkan oleh Balai Pustaka sehingga anggapan Raden Musaid sebagai sastrawan lokal menjadi terbantahkan, Babad Sumenep menjadi sebuah naskah budaya yang memperkaya khazanah budaya dan sejarah bangsa.
Semangat Beragama yang menjadi Pelita
Raden Musaid yang budayawan dan cendikiawan memiliki kedekatan dengan Kyai Haji Mas Mansur yang berdarah Sumenep, dalam berbagai biografi disebutkan bahwa KH Mas Achmad Marzuki (ayahanda Mas Mansur) terhitung masih keturunan dari bangsawan Sumenep.
Sebagai ulama muda yang kharismatik Kyai Haji Mas Mansur berhasil membawakan kehalusan dakwah yang menyentuh sehingga memberi pengaruh yang luarbiasa kepada pribadi Raden Musaid, beliau memilih jalan yang tidak biasa ditempuh oleh kebanyakan budayawan dan kaum adat yang mengambil jarak atas gerakan dakwah, semangatnya justru meluap – luap untuk mengikuti cara beragama yang diajarkan oleh mas mansur yang berusaha menempatkan agama dan budaya secara proporsional tanpa mengesampingkan adat / budaya yang bersendi syara’ dan berpilar kitabullah.
Raden Musaid menjadi penggerak pengembangan Muhammadiyah di Sumenep, beliau secara tegas menolak dikotomi NU-Muhammadiyah, menurutnya NU-Muhammadiyah atau Ormas keagamaan lainnya sama – sama bisa menjadi jembatan pergerakan berbasis keagamaan yang bisa mengantarkan ummat menggapai pencerahan spiritual. Dukungan untuk mengembangkan Muhammadiyah di Ujung timur Pulau Madura itu datang dari keluarga besarnya juga dari Kyai Haji Mas Mansur yang menjadi konsul Muhammadiyah Jawa Timur di Surabaya dan kemudian terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Muhammadiyah (1937 – 1943).
R. Muhammad Saleh Werdisastro, Berkarya Hingga Tutup Usia
Semangat untuk mengikuti jejak perjuangan dan pergerakan sang ayah menitis dalam jiwa Muhammad Saleh Werdisastro, salah seorang putera Raden Musaid yang pada akhirnya terkenal sebagai salah satu putera Sumenep yang mendapatkan pengakuan dari Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional.
Muhammad Saleh Werdisastro memulai karir sebagai pendidik dan aktivis Muhammadiyah selanjutnya beliau mulai menapaki berbagai karir dengan cemerlang tanpa meninggalkan panggilan jiwanya sebagai pendidik dan aktivis pergerakan. Bakat dan jiwa perjuangannya terasah sejak memimpin kepanduan Hizbul Wathon di Madura, Karirnya sebagai prajurit bermula dengan bergabung dalam laskar hizbullah kemudian bergabung sebagai milisi PETA dan terpilih sebagai Dai Dancho (Komandan Batalyon) Dai Yang II Yogyakarta pada tahun 1943 bersama dengan beberapa tokoh lainnya seperti Soedirman (Kemudian menjadi Panglima Besar TNI), Kyai Muhammad Idris, Kyai Doeryatman, Soetaklaksana, Kasman Singodimejo, Moelyadi Djojomartono, dan lain-lain.
Setelah PETA dibubarkan maka mulailah Karirnya sebagai politisi dengan menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Yogyakarta (1945) dan dikukuhkan sebagai anggota KNIP (1946).
Karirnya sebagai pamong bersinar ketika menjabat Wakil Walikota Yogyakarta (1950), di Yogyakarta itulah beliau dipercaya sebagai anggota Tanwir Muhammadiyah Pusat dan turut pula menjadi penggagas berdirinya Universitas Gajah Mada (UGM), selanjutnya beliau menjabat Walikota Surakarta selama dua periode (”1951 – 1958″) dan kemudian menjabat Residen Kedu yang berkedudukan di Magelang (1959 – 1964) hingga pensiun dengan pangkat Gubernur dan Wafat di Yogyakarta pada tahun 1966.
Pihak militer meminta jenazah Muhammad Saleh Werdisastro dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta karena almarhum adalah seorang pejuang yang memiliki Bintang Gerilya sementara pihak Muhammadiyah menolak karena Muhammad Saleh Werdisastro begitu besar jasanya kepada Muhammadiyah sehingga untuk menghormatinya, jenazah beliau dimakamkan berdampingan dengan pendiri Muhammadiyah lainnya, Kyai Haji Achmad Dahlan di pemakaman Karangkajen Yogyakarta.
Sebagaimana ayahnya yang dekat dengan Kyai Haji Mas Mansur maka R. Muhammad Saleh Werdisastro juga merasakan tempaan dari seorang Mas Mansur yang demikian berbekas sehingga nama sang guru pergerakan itupun diabadikan sebagai nama putera pertamanya Ir. R. Muhammad Mansur Werdisastro. Dalam beberapa tajuk biografi Muhammad Saleh Werdisastro tertulis “Residen Kebanggaan Muhammadyah”, tajuk itu memang tidak salah hanya perlu sedikit dikritisi bahwa kitapun perlu menyadari bahwa beliau R. Muhammad Saleh Werdisastro dalam setiap gerak perjuangannya tidak pernah mendedikasikan diri secara khusus bagi Persyarikatan Muhammadiyah melainkan perjuangannya sebagai anak bangsa bersifat menyeluruh demi meraih kemaslahatan yang bersifat universal untuk ummat, bangsa dan negara.
Ustadz Hakam , Pijar dakwah yang berpendar
Karena minimnya tenaga dakwah di Sumenep pada sekitar tahun tiga puluhan maka Raden Musaid meminta bantuan kepada Kyai Haji Mas Mansur yang segera dijawab dengan dikirimkannya beberapa tenaga dakwah yang salah satunya adalah Abdul Kadir Muhammad (AKM), salah seorang murid sekaligus keponakan KH Mas Mansur.
Abdul Kadir dibesarkan dalam lingkungan agamis yang pluralis, sang ayah KH Mas Muhammad menitipkannya untuk dididik oleh adiknya yaitu Kyai Haji Mas Mansur sementara saudara Abdul Kadir yang lain ada yang mendapatkan didikan langsung dari Hasan Gipo, Ketua Tanfidziah NU pertama.
Keluarga Besar Sagipodin (Bani Gipo) memang memiliki akar yang kuat di kalangan Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, Kedua Cucu Sagipodin yakni KH Mas Mansur dan KH. Hasan Basri (Hasan Gipo) merupakan dua tokoh penting dalam pertumbuhan Muhammadiyah dan NU.
Di Pulau Madura, Abdul Kadir memulai berdakwah dari lingkungan keluarga besar Raden Musaid, keberadaannya cepat bisa diterima dan akrab disapa dengan sebutan “Ustadz”, beliau juga berdakwah di lingkungan Masjid Jamik Sumenep. Demikianlah Ustadz Abdul Kadir Muhammad yang ber-etnis Jawa ternyata sangat memahami karakteristik orang madura dan terbukti fasih dalam berbahasa madura sehingga tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam komunitas yang berbahasa dan berbudaya madura.
Untuk meneguhkan perjalanan dakwahnya di Sumenep maka Ustadz Hakam kemudian menikahi R. Fatimatuz Zahro yang tak lain adalah cucu R. Musaid dari Puterinya R.Ay Mariatul Kibtiyah.
Dalam menyikapi perbedaan corak keberagamaan Ustadz Hakam selalu menekankan pentingnya mencari persamaan serta memperkuat ukhuwah wathoniah diantara ummah. Seperti halnya R. Muhammad Saleh Werdisastro yang peduli terhadap pendidikan kaum pribumi maka beliau juga merancang Home Schooling serta membuat sebuah perpustakaan dengan koleksi buku – buku pribadinya yang terbilang sangat banyak untuk ukuran perpustakaan pribadi, selain aktif berdakwah ustadz hakam juga meniti karir dari bawah di lingkungan Departemen Agama, pada pertengahan tahun lima puluhan ditugaskan sebagai kepala Kantor Urusan Agama Maluku Tenggara, sekembalinya dari tanah Maluku cita –citanya makin menguat untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis agama, pada periode tahun enam puluhan beliau dipercaya untuk mengembangkan Pondok Pesantren Modern Panarukan dan mulai merintis pengembangan dakwah di pulau – pulau kecil di sekitar Madura, terakhir KH Abdul Kadir Muhammad menjadi Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Modern Islam (YPPMI) Pulau Kangean dan terus berdakwah hingga akhir hayatnya.
Penulis perlu menggaris bawahi peran Raden Musaid yang sangat besar dalam membuka jalan bagi pengembangan dakwah Islam di Tanah Madura, selebihnya tulisan ini bersifat rintisan sehingga penulis menyadari banyaknya kekurangan atas rekaman – rekaman peristiwa dalam paparan diatas sehingga diharapkan bantuan dari berbagai pihak untuk dapat melengkapinya.
Akhirnya semoga kita bisa belajar dari catatan perjalanan hidup Raden Musaid yang Budayawan, Muhammad Saleh Werdisastro yang Birokrat dan Ustadz Hakam yang Ulama yang masing – masing sangatlah profesional di bidangnya. Kemudian yang terlintas adalah tanda tanya, bisakah kita turut mengambil bagian dalam meneruskan perjuangan dan pergerakan yang takkan bisa terpadamkan ??? Wallahu A’lam.
(Ditulis oleh : Badrut Tamam Gaffas untuk Sebuah Nama )
Senin, 15 September 2008
Caleg Perempuan PMB 41,2%
INILAH.COM, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberikan batas akhir kepada partai-partai politik untuk menyerahkan Daftar Calon Sementara (DCS) pada Selasa tanggal 16 September 2009 jam 16.00 WIB.
Sesuai data akhir DCS yang diserahkan ke KPU tanggal 14 September 2008, PMB hanya menyerahkan caleg sebanyak 325 atau 69,6% dari jumlah yang seharusnya sebanyak maksimal 672.
Ditilik dari persentase Caleg perempuan, Partai Matahari Bangsa (PMB) berhasil menempatkan caleg perempuan sebanyak 134 (41,2%), sementara caleg laki-laki sebanyak 191 (58,8).
Tentu ini merupakan capaian yang menurut kami luar biasa untuk ukuran partai baru seperti PMB, yang kebanyakan merasa kesulitan untuk memenuhi kuota caleg perempuan (30%)," kata Ketua Tim Penjaringan, Pencalonan dan Pembekalan Caleg PP PMB Ma'mun Murod Al-Barbasy di Jakarta, Minggu (14/9).
Ma'mun yang juga Ketua PP Pemuda Muhammadiyah ini menambahkan bahwa PMB tidak saja berusaha melampaui kuota 30% caleg perempuan, tapi juga berusaha secara serius melakukan affirmative actions terhadap posisi politik perempuan.
Ia mengatakan, meski tidak cukup ideal, PMB berhasil menempatkan caleg perempuan pada nomor urut 1 sebanyak 12 (15,6%) dan caleg laki-laki sebanyak 65 (84,4%). Sementara untuk nomor urut 2, PMB menempatkan caleg perempuan berjumlah sebanyak 26 (33,8%) dan caleg laki-laki sebanyak 51 (66,2%), dan caleg perempuan yang menempati nomor urut 3 sebanyak 47 (61%) dan caleg laki-laki sebanyak 30 (39%).
Sumber : www.inilah.com
Dien Syamsuddin Siap Jadi Capres atau Cawapres

Sabtu, 13 Sept 2008 17:02:18
Surabaya - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Dien Syamsuddin menyatakan kesiapannya menjadi calon presiden maupun calon wakil presiden pada Pemilu 2009 mendatang.
"Saya kira sudah sering saya katakan kalau sekedar menjawab siap, maka saya sebagai pemimpin ormas besar seperti Muhammadiyah harus menyatakan siap, insyallah," ujar Dien kepada wartawan usai memberikan pengajian Ramadan yang diselenggarakan PW Muhammadiyah Jatim di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu.
Tetapi soal bagaimana kelanjutannya apakah tampil sebagai Capres atau Cawapres, ujar Dien, pihaknya masih menunggu perkembangan dan menunggu kesepakatan warga Muhammadiyah, karena itu dirinya masih menunggu waktu.
"Muhammadiyah akan memutuskan secara formal kalau sudah ada yang melamar secara resmi," katanya.
Sementara itu saat tanya jawab pengajian Ramadan, sejumlah peserta juga menanyakan kesiapan Dien dalam mengikuti Pilpres 2009.
Pada kesempatan tersebut Dien mengatakan kalau hasil pooling saat menunjukkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri memperoleh dukungan terbanyak dengan perolehan pada kisaran 20 persen hingga 25 persen.
"Kombinasi yang bagus itu Islam - nasionalis, nggak mungkin Islam - Islam atau nasionalis - nasionalis. Ada juga tawaran saya diduetkan dengan Pak Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU). Saya selama dimasukkan sebagai representasi kelompok Islam," katanya.
Dien menegaskan pencalonan dirinya terserah kepada Muhammadiyah. "Saya terserah Muhammadiyah, kalau Muhammadiyah bilang ndak boleh ndak apa-apa. Saya terlalu meremehkan Muhammadiyah kalau dikatakan tidak siap," ujar mantan pengurus IPNU Mataram ini.
Sementara itu Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, Prof Dr Syafiq Mughni mengatakan keputusan pencalonan Dien sebagai Capres atau Cawapres masih menunggu keputusan muktamar atau tanwir Muhammadiyah.
"Pada prinsipnya kami senang saja kalau ada warga Muhammadiyah yang mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa, namun kami akan berpartisipasi pada sidang tanwir dulu, kemudia bagaiamana keputusannya tunggu perkembangan," katanya.
Syafiq mengatakan pencalonan Dien masih banyak prosesnya dan belum tentu serius.
"Secara organisatoris PWM Jatim juga belum memutuskan karena ini masalah besar dan strategis karena itu akan diputuskan pada tanwir tahun depan di Sumatra," katanya.
Syafiq mengatakan dirinya tidak akan mempersoalkan partai manapun yang nantinya akan mencalonkan Dien. "Tidak ada masalah secara ideologis dasarnya sama yakni Pancasila, platform politik partai kurang lebih sama, jadi soal selera saja," katanya.
http://www.antarajatim.com/?ref=disp&id=4240
Kamis, 11 September 2008
13 Pengurus PAN Mengundurkan Diri
Ditulis oleh JAWAPOS- RADAR MADURA
SUMENEP-Sebanyak 13 pengurus DPD PAN Sumenep kemarin secara mengejutkan menyatakan mengundurkan diri. Mereka mengajukan surat pengunduran diri bersama kepada Ketua DPD PAN Sumenep Malik Effendi.
Dari 13 pengurus partai berlambang matahari yang mengundurkan diri itu, sebagian adalah pengurus harian yang juga punya posisi penting di partai. Diantaranya, Wakil Bendahara Ibno Muyassar yang juga sekretaris Barisan Muda (BM) PAN Sumenep dan Wakil Sekretaris Syafruddin Budiman.
Kemudian, 3 wakil bendahara juga mengundurkan diri, yakni Sufiyati, Nanik Latifah, dan Sugiarto. Selain itu, 4 ketua departemen, yakni Sudianto, Abu Nanto, Khairul A., dan Nur Asyiah Ika Ningsih ikut mundur. Sedangkan yang lain adalah anggota departemen, antara lain Nur Rahmah Utami, Abdurrahman, Usman, dan Yulius.
Dalam surat mereka tidak jelas alasan mereka mengundurkan diri dari kepengurusan DPD PAN. Mereka hanya menyatakan dalam surat itu bahwa tidak bisa aktif sebagai anggota PAN.
Syafruddin Budiman yang dikonfirmasi koran ini menyatakan, alasan pengunduran dirinya karena dia sudah bergabung dengan partai lain, yaitu Partai Matahari Bangsa (PMB). "Saya menjadi deklarator PMB nasional maupun Jatim. Makanya, saya mengundurkan diri dari kepengurusan secara baik-baik," ujarnya.
Dia mengaku pindah ke PMB, karena partai tersebut dinilai benar-benar menyuarakan Muhammadiyah. Menurut dia, PMB didirikan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah. Budiman yang akrab dipanggil Rudi ini mengatakan, sebagian besar anggota yang mengundurkan diri, karena mereka ingin bergabung dengan PMB. "Mungkin ini sebagai evaluasi kepada PAN," kata mantan ketua departemen di DPW PAN Jawa Timur ini.
Sementara itu, Sekretaris DPD PAN Sumenep Faisal Muhlis kepada sejumlah wartawan membantah bahwa ada 13 pengurus yang mengundurkan diri. "Setelah dikroscek dengan SK kepengurusan DPD, ternyata bukan 13 orang, tapi hanya 6 orang. Itu pun hanya 1 yang pengurus harian. Lainnya di departemen," ujarnya.
Meski sejumlah pengurusnya hengkang, menurut Faisal, tidak mempengaruhi partainya. "Tidak masalah mereka keluar. Pengurus DPD PAN Sumenep jumlahnya 324 orang. Apalagi yang mundur itu semuanya jarang aktif di kegiatan partai," dalihnya.
Dengan mundurnya sejumlah pengurus itu, sambungnya, membuktikan bahwa siapa pun yang berpikir sektarian dan berpikir aliran, pasti tidak akan betah di PAN. "PAN itu bukan partai aliran. Yang jadi pengurus di PAN ada yang dari kalangan nahdliyin, Muhammadiyah, Persis, pengusaha, LSM. Pokoknya heterogen," tandasnya. (zr)
Sumber : Jawapos-Radar Madura / Selasa 30 Januari 2007
PMB Berpeluang Curi Suara
PENGAMAT politik dari The Akbar Tandjung Institute Alfan Alfian menilai Partai Matahari Bangsa (PMB) lebih berpeluang meraih suara Muhammadiyah karena secara simbolik lebih melekat di tubuh partai itu.
Menurut dia, secara politis, PMB diuntungkan karena ideologi PAN sudah berbeda dari awal berdirinya yang mengedepankan nilai kemuhammadiyahan berganti menjadi ideologi nasionalis. Sementara fungsi partai sebagai wadah aspirasi warga Muhammadiyah kini diperankan PMB.
”PMB akan lebih berpeluang ketimbang PAN. Suara untuk PAN dari Muhammadiyah akan turun dan mengalihkan dukungannya ke PMB,” kata Alfan kemarin. Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari.Dia mengatakan, partai pimpinan Soetrisno Bachir akan menghadapi rival yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Apalagi, secara terbuka,Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin sudah menyatakan dukungan pribadinya kepada partai yang berdiri pada 8 Januari 2006 itu. Menurut Qodari, PMB mendapat keuntungan secara psikologis atas deklarasi Din yang mendukung partainya. Jadi,PAN harus melirik basis massa lain dan tidak berharap banyak pada Muhammadiyah. ”Karena dukungan Din, suara untuk PAN dari Muhammadiyah akan menurun dan akan beralih mendukung PMB. Ini menjadi ancaman serius bagi PAN,” imbuh Qodari.
Menurut Alfan Alfian, partai Islam dan nasionalis yang berpotensi melirik kantong suara Muhammadiyah adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS),Partai Golkar, dan Partai Bulan Bintang (PBB). ”Massa Muhammadiyah tersebar dari partai yang dianggap paling sekuler sampai partai Islam yang basis massanya kuat,”tandasnya.
PKS dinilai berpotensi karena tidak sedikit petinggi partai itu adalah para aktivis Muhammadiyah. Sebut saja mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid yang sekaligus menjabat sebagai Ketua MPR dan Sekjen DPP PKS Anis Matta. Keduanya adalah orang yang pernah duduk dalam kepengurusan pusat Muhammadiyah. Bahkan,Anis Matta mengklaim hingga kini masih memiliki jaringan komunikasi yang baik dengan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.
”Ormas Islam akan sulit menyatakan dukungan secara struktural. Pemilih Muhammadiyah juga akan rasional. Jadi, partai mana yang dipilih, akan bergantung pada kinerja partai,” ungkap Anis Matta. Mantan Ketua PP Muhammadiyah yang sekarang menjadi politikus Partai Golkar, Hajriyanto Y Tohari,mengatakan, di organisasi tersebut ada pembagian tugas.
”Ada yang mengurusi Muhammadiyah seperti Pak Din dan ada yang terjun ke dunia politik seperti saya ini,”katanya. Anggota Komisi I DPR ini menyatakan, tersebarnya kader Muhammadiyah di beberapa parpol merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Sebab, nantinya organisasi tersebut bisa memanfaatkan mereka untuk kepentingan Muhammadiyah. (rd kandi/rahmat sahid/ahmad baidowi)
http://72.14.235.104/search?q=cache:yvnqSgLQy5YJ:www.seputar-indonesia.com/edisicetak/nasional/pmb-berpeluang-curi-suara.html+PMB+JAWA+TIMUR&hl=id&ct=clnk&cd=42&gl=id
PMB Merapat ke Khofifah
13 Agustus 2008Jakarta, Menjelang pelaksanaan putaran kedua pemilihan gubernur Jawa Timur (pilgub Jatim), dukungan terhadap pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (KaJi) terus mengalir, salah satunya dari Partai Matahari Bangsa (PMB).
Ketua Umum PMB Imam Addaruquthni, di Jakarta, Selasa (12/8), membenarkan bahwa partainya kini tengah merapat pada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur (cagub/cawagub) yang diusung Koalisi Jatim Bangkit tersebut. "Setelah mempertimbangkan berbagai hal, termasuk fakta di lapangan, PMB memilih merapat ke KaJi," katanya.
Menurut Imam, realitas menunjukkan siapa pun yang akan terpilih, yang menang adalah NU, karena pada dua pasangan kandidat yang akan bertarung pada putaran dua masing-masing terdapat kader NU yakni Khofifah dan Saifullah Yusuf.
Jika PMB memilih merapat ke KaJi, kata Imam, karena Khofifah merupakan calon gubernur sedangkan Saifullah Yusuf posisinya sebagai cawagub. Sehingga, bagi PMB, lebih strategis mendukung kader NU yang menjadi cagub.
Menurut Imam, kekuatan PMB di Jatim cukup signifikan. Jatim merupakan salah satu basis kekuatan partai yang akan maju dalam pemilihan umum (pemilu) 2009. Setidaknya, kata Imam, tambahan dukungan dari PMB akan memberi warna dan darah segar bagi pasangan KaJi di putaran kedua nanti.
Selain itu, lanjut Imam, pilgub putaran kedua di Jatim juga menjadi ajang pemanasan bagi PMB untuk menghadapi pemilu 2009. Kekuatan PMB di Jatim akan dikonsolidasikan dalam pemilihan kepala daerah sekaligus dipersiapkan untuk mendulang suara dalam pemilu. "Jadi ini semacam simbiosis mutualisme," kata Imam. [EL, Ant]
http://www.gatra.com/2008-08-14/artikel.php?id=117441
KLIPING SYAFRUDIN BUDIMAN : Sembilan OKP Islam Minta Pemerintah
Sembilan OKP Islam Minta Pemerintah
Tidak Menyengsarakan Rakyat
Kamis, 9 Februari 2006
SURABAYA (Suara Karya): Pimpinan sembilan organisasi kepemudaan (OKP) Islam yang ada di Jawa Timur meminta pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tidak menyengsarakan rakyat dengan menaikkan tarif dasar listrik (TDL) dan harga bahan bakar minyak (BBM).
Permintaan itu tertuang dalam "Seruan Muharram 1427 H" yang disampaikan pimpinan sembilan OKP Islam tersebut kepada wartawan di Gedung DPRD Propinsi Jatim, di Surabaya, Rabu.
Para pimpinan OKP Islam Jatim tersebut masing-masing Ketua Umum Badko HMI Sugiharto, Ketua Umum Koorcab PMII Achmad Nur Aminuddin, Ketua DPD IMM Syafruddin Budiman, Ketua Umum PW IRM Fasil Fuad, dan Ketua Umum PW PII, Fahmi Tibyan.
Kemudian Ketua Umum PW IPNU Sulamul Hadi Nurmawan, Ketua Umum IPPNU Dewi Winarti, Ketua Umum MASIKA ICMI Hadi Wahyudi serta Ketua Umum Pengurus Wilayah Forum Mahasiswa Syariah (Formasi) M.Asyhari Rangkuti.
Mereka menyatakan kebijakan pemerintahan akhir-akhir ini terasa menyulitkan masyarakat, termasuk umat Islam, yakni dengan adanya kebijakan kenaikan harga BBM, impor beras serta rencana menaikkan TDL.
Mereka menganggap kebijakan pemerintah itu lebih mengikuti regulasi pasar yang dikendalikan oleh neo-liberal dan kapitalisme. Mereka juga mendesak kepada pemerintahan SBY untuk mengaudit dan mengusut tuntas korupsi di PLN, Pertamina, Bulog dan BUMD-BUMD yang menjadi sarang "tikus berdasi".
Para pimpinan OKP Islam Jatim itu juga menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk menolak budaya dan hal-hal berwatak kapitalistik yang dipropagandakan oleh Barat.
"Kebijakan pemerintah menaikkan TDL, BBM atau kenaikan apapun harus diimbangi dengan solusi program-program yang bisa mengentaskan masyarakat kecil, misalnya melalui program padat karya. Solusi seperti pemberian bantuan tunai langsung (BTL) harus bisa memberdayakan ekonomi masyarakat," kata Ketua Umum Badko HMI Jatim Sugiharto.
Sementara menurut Ketua IMM Jatim Syafrudin Budiman, peringatan tahun baru Islam sekarang ini merupakan sebuah momentum untuk mencerahkan bangsa dari persoalan-persoalan krisis yang berkepanjangan.
"Hijrah adalah momentum, berangkat dari situasi yang suram menjadi situasi yang cerah dan terus cerah, maka yang bisa dilakukan umat Islam adalah menegaskan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur`an, sunah Rasulullah serta kontektualisasi nilai-nilai yang ada di dalamnya," katanya.
Bertemunya sejumlah OKP Islam, dengan menyampaikan "Seruan Muharram 1427 H" tersebut sekaligus merupakan rekonsiliasi gerakan Islam untuk membangun aliansi strategis yang lebih luas. (Ant/Laurensius)
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=135093
KLIPING SYFRUDIN BUDIMAN : Panitia Tragedi Mei 1998 Unjuk Rasa ke RRI Surabaya
Panitia Tragedi Mei 1998 Unjuk Rasa ke RRI Surabaya
SURABAYA--MIOL: Para mahasiswa yang tergabung dalam panitia bersama malam peringatan tragedi Mei 1998 dan refleksi tujuh tahun reformasi, melakukan unjuk rasa ke gedung RRI Cabang Madya Surabaya di Jalan Pemuda, Sabtu, meminta agar tuntutannya diudarakan.
Para mahasiswa yang melakukan unjuk rasa berasal dari Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jatim, Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Jatim, IKOHI, FKPI, Barisan Oposisi Bersatu (BOB), Letram dan Solidaritas Nusa Bangsa.
Sebelum tiba di RRI Surabaya, mereka terlebih dahulu melakukan unjuk rasa di depan patung Gubernur Suryo di depan Gedung Negara Grahadi, kemudian melanjutkan perjalanan ke gedung DPRD Surabaya di Jalan Yos Sudarso, setelah itu menuju ke Jalan Pemuda.
Mahasiswa tidak mengalami hambatan berarti untuk menyampaikan aspirasi ke RRI Surabaya. Mereka bebas menyampaikan tuntutannya, selain itu mereka juga diberi kesempatan melakukan talk show,P> yang diwakili oleh Dandi Katjasungkana, dengan dipandu reporter RRI, Kistoro.
Menurut Kistoro, acara dialog berlangsung sekitar satu jam mulai pukul 11.45 Wib. "Mahasiswa mengeluhkan kenapa tragedi Mei 1998 yang sudah berlangsung selama tujuh tahun tidak segera tuntas padahal sudah disampaikan ke parlemen dan Komnas HAM," tuturnya.
Aktifis IMM Jatim, Syafruddin Budiman dalam tuntutannya mengatakan pihaknya meminta agar pemerintah mengusut tuntas tragedi Mei 1998 dan mengadili jendral pelanggar HAM yang terlibat peristiwa Mei, mencabut produk undang-undang yang anti demokrasi dan melanggar HAM.
Para pengunjuk rasa juga meminta agar pemerintanhan SBY melakukan percepatan untuk melakukan reformasi TNI diantaranya dengan membubarkan Kodim, Koramil, Babinsa.
Pada kesempatan yang sama, Syafruddin juga mengundang warga untuk menghadiri malam peringatan tragedi Mei 1998 dan refleksi tujuh tahun reformasi, Senin (16/5) di halaman SMU Muhammadiyah 2, Jalan Pucang Anom 91, Surabaya, pukul 18.00 WIB.
Menurut rencana acara tersebut bakal menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, Prof dr Fasich Apt, aktifis HAM dari Solidaritas Nusa Bangsa, Ester Endrayani Yusuf SH, Ketua Kontras, Usman Hamid SH dan akan ditutup doa oleh Drs Kuswiyanto MSi, anggota Fraksi PAN DPRD Jatim. (Ant/OL-1)
http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=65134
KLIPING SYAFRUDIN BUDIMAN : Barisan Oposisi Jatim Kecam PKS Dukung SBY-Kalla
Barisan Oposisi Bersatu (BOB) Jawa Timur mengecam keras dukungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kepada pasangan capres-cawapres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK). "PKS itu seharusnya berada dalam kekuatan oposisi, karena itu banyak yang mensinyalir bahwa PKS telah disusupi militer," kata juru bicara BOB Jatim, Syafruddin Budiman, di Surabaya, Minggu (5/9).
Ia mengatakan PKS pernah menjadi oposisi dan mendukung Amien Rais dengan pertimbangan yang sangat lama, tapi PKS sekarang sudah mendukung pasangan SBY-JK sampai ke akar-akarnya hanya dalam hitungan jam. "Kami mengingatkan kepada warga Muhammadiyah untuk mempertimbangkan dukungan PAN kepada PKS selama ini, karena PKS mendukung Amien Rais dengan setengah hati," ujar Syafruddin yang juga Ketua Bidang Hikmah IMM Jatim itu.
Sikap PKS seperti itu, lanjutnya, berarti PKS tak konsisten, karena kepemimpinan sipil itulah yang seharusnya lebih didukung daripada militer. "Dalam konteks Jatim, kami mendukung sikap PAN Jatim yang menolak bergabungnya PKS ke dalam Fraksi Amanat Jatim, sehingga mereka akhirnya masuk ke Partai Demokrat, karena inkonsistensi PKS sendiri," sebutnya.
Namun, tambah Syafruddin, BOB juga mengecam koalisi yang hanya bersifat politik dagang sapi, karena koalisi seharusnya merujuk kepada terwujudnya demokrasi dan pemerintahan yang bersih. (Ant/Ima)
http://64.203.71.11/utama/news/0409/05/100954.htm
Senin, 08 September 2008
Mengaku NU, SB Cari Dukungan Gus Dur
Soetrisno mengundang mantan presiden ke-4 itu untuk buka puasa bersama di Hotel Crown Plaza, Jakarta. ''Kalau saya maju, pasti meminta restu terlebih dulu dari Gus Dur dan Amien Rais,'' ujar Soetrisno setelah pertemuan itu kemarin.
Menurut pria yang akrab disapa SB itu, kedua tokoh nasional tersebut merupakan dua senior yang sangat dihormatinya. ''Mereka itu saya anggap seperti orang tua saya semua,'' tandasnya.
Selain itu, tambah dia, dirinya dan Gus Dur memiliki kedekatan kultural yang sama. Almarhum ayahnya merupakan salah seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) pada zamannya.
Karena itu, Soetrisno merasa tidak aneh jika dirinya lantas meminta dukungan salah seorang pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut. ''Saya ini bagian dari santrinya (Gus Dur). Jadi, tidak aneh kalau beliau dukung saya. Justru kalau orang lain (yang didukung) baru aneh,'' katanya.
Dukungan yang diharapkan politikus berlatar belakang pengusaha itu tidak hanya terkait dengan kesiapannya maju sebagai capres 2009. Tapi, juga untuk peningkatan perolehan suara partainya pada pemilu mendatang.
Soetrisno mengakui, partainya juga berharap mendapatkan manfaat dari konflik di tubuh PKB saat ini. ''Bersama-sama Gus Dur, kader PKB yang masih kecewa dapat bergabung membesarkan partai ini (PAN, Red),'' lamarnya.
Soetrisno pun menyindir bahwa sosok Gus Dur yang masih punya dukungan kuat di beberapa daerah tidak cocok lagi berada di PKB. ''PKB terlalu kecil bagi beliau,'' ujarnya.
Karena itu, SB berharap, jika Gus Dur tidak lagi berada di sana, suara pendukungnya bisa beralih ke PAN. ''Kita memang sedang cari dukungan ke arah situ,'' tegasnya.
Bagaimana respons Gus Dur? Mantan ketua umum PB NU itu menanggapi dengan biasa-biasa saja. Seperti yang disampaikan kepada Yusril, Gus Dur juga akan mendukung Soetrisno setelah dirinya memastikan tak mencalonkan diri menjadi presiden.
''Tapi, dia akan benar-benar saya dukung kalau dia bisa nemu jawabannya,'' ujar Gus Dur enteng.
Sehari sebelumnya, mantan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra menemui Gus Dur di Kantor PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat. Selain bersilaturahmi, pertemuan tersebut diakui Yusril meminta restu untuk maju menjadi calon presiden pada 2009. (dyn/mk/mk)
Kamis, 28 Agustus 2008
PMB Target Empat Kursi di Sumenep

09 Aug 2008 17:24:50
Sumenep - Pimpinan Wilayah (PW) Partai Matahari Bangsa (PMB) Jawa Timur menargetkan PMB Sumenep meraih empat kursi DPRD pada Pemilu 2009 mendatang.
Sekretaris PW PMB Jawa Timur, Syafrudin Budiman di Sumenep, Madura, Sabtu (9/8), menjelaskan, pihaknya jauh hari telah melakukan pendekatan pada sejumlah tokoh agama dan komponen masyarakat lainnya di Sumenep.
"Hasilnya cukup signifikan dan dalam pengamatan kami, dukungan warga Sumenep pada PMB dalam pemilu 2009 mendatang akan menghasilkan empat kursi di DPRD," katanya.
Ia lalu menjelaskan, dari pengamatan disertai survei yang dilakukannya, empat kursi DPRD akan dihasilkan dari daerah pemilihan (dapil) Sumenep I, III, VI, dan VIII.
"Kami sebagai partai politik (parpol) baru dalam Pemilu 2009, tetap akan bersikap realistis. Tapi, dukungan warga Sumenep membuat kami optimis meraih empat kursi DPRD dari empat dapil," katanya.
Kedatangan Syafrudin Budiman ke Posko Matahari Bangsa Sumenep di Jalan Guntur, Sabtu (9/8), dalam rangka konsolidasi internal menghadapi Pemilu 2009.
"Kami sudah minta pada Ketua PMB Sumenep, Muh Ismail Shaleh, agar semua elemen yang dimiliki PMB Sumenep digerakkan secara tepat dan terpadu supaya target empat kursi DPRD pada Pemilu 2009 mendatang bisa direalisasikan di Sumenep," katanya.
http://www.antarajatim.com/?ref=disp&id=3433
PMB SERUKAN PARA CAGUB HINDARI PEMBOROSAN
PMB SERUKAN PARA CAGUB HINDARI PEMBOROSAN
Surabaya, 11/5 (ANTARA) - Partai Matahari Bangsa (PMB) Jawa Timur menyerukan para Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) untuk menghindari kampanye pemborosan di tengah krisis global dan BBM yang sebentar lagi naik.
"Cagub harus melakukan perkenalan yang efektif dan efisien dalam menarik simpati rakyat, misalnya perkenalan berbentuk bakti sosial, pengobatan gratis, bersih-bersih kampung, beasiswa, atau pembagian makan gratis," kata Sekretaris PMB Jatim Syafrudin Budiman kepada ANTARA di Surabaya, Minggu.
Menurut dia, para calon selama ini lebih senang melakuakan pemasangan alat peraga yang mencolok dan pemborosan, seperti pasang iklan baliho besar, spanduk dan banner-banner peraga.
"Hal ini memang diperluakan, namun jangan terlalu boros. Bayangkan saja berapa miliar rupiah yang dikeluarkan para calon, karena hampir setiap gang ada pemasangan alat peraga," kata Syafrudin Budiman yang juga mantan Pengurus Pusat (PP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) itu.
Kamis, 07 Agustus 2008
PD PMB Jombang Buka Caleg
JOMBANG, RM
Pengurus Daerah Partai Matahari Bangsa (PD PMB) Jombang membuka pendaftaran calon legislatif. Hal itu dilakukan setelah PMB dinyatakan sebagai salah satu partai peserta pemilu 2009. demikian ditegaskan Sekretaris PD PMB Jombang, M Chabib S usai mengikuti Rakorwil beberapa waktu lalu.
”Keputusan itu diambil agar siapa saja yang maju dalam caleg, dapat segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sehingga calon tersebut selain dapat dikenal di masyarakat, juga untuk dapat segera melakukan berbagai kegiatan nyata bagi masyarakat,” kata Chabib.
Lebih jauh ia mengatakan, bahwa dalam menerima caleg tersebut, ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh caleg dalam intern partai. “Selain itu, mereka juga harus mengikuti aturan dari partai,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PD PMB Jombang, Khasful Hidayat menyatakan agar sesegera mungkin peminat yang ingin menjadi caleg dari PMB untuk segera mendaftar. Pasalnya, setelah sampai pada batas pendaftaran, maka akan dilakukan verifikasi terhadap caleg.
”Hingga saat ini, yang sudah berminat mendaftar sudah ada tiga hingga lima orang. Ini membuktikan bahwa PMB juga memiliki nilai lebih tersendiri,” katanya.
Untuk itu, lanjutnya, pihaknya akan melakukan verifikasi tentang layak dan tidaknya seseorang itu menjadi caleg dari PMB dalam pemilu 2009 nanti. ”Bagaimanapun juga kami berharap mendapatkan kader-kader terbaik dan mempu membawa aspirasi rakyat,” tandasnya. [hs]
http://radarminggunews.blogspot.com/2008/07/pd-pmb-jombang-buka-caleg.html
PKB Jatim Pro-muhaimin Ke Khofifah Di Putaran Dua
24/07/08Surabaya (ANTARA News) - DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur pro-Muhaimin Iskandar mengarahkan dukungan ke pasangan Khofifah-Mudjiono (KaJi) dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim putaran kedua.
"Untuk putaran kedua, kami sudah menerima aspirasi dari daerah-daerah untuk mendukung Khofifah-Mudjiono," kata Sekretaris Lembaga Pemenang Pemilu (LPP) PKB Jatim pro-Muhaimin, M Mas`ud Adnan, kepada ANTARA di Surabaya, Kamis.
Menurut dia, aspirasi dari hampir 100 persen daerah itu akan diformulasikan DPW PKB Jatim dalam pertemuan LPP PKB Jatim pro-Muhaimin, apalagi konflik PKB saat ini sudah tuntas dengan pengakuan pemerintah kepada DPP PKB pimpinan Muhaimin.
"Yang jelas, sikap daerah-daerah itu sebenarnya sudah sejalan dengan aspirasi DPW PKB Jatim yang memang akan mengambil sikap pada putaran kedua, sedang di putaran pertama menyesuaikan dengan Dewan Syuro PKB Jatim," katanya.
Oleh karena itu, katanya, PKB Jatim akan berupaya "all out" memenangkan pasangan Khofifah - Mudjiono di putaran kedua melalui mobilisasi massa PKB Jatim yang diperkirakan mencapai tujuh juta.
"Di putaran pertama, PKB Jatim tidak ada arahan sama sekali, karena memang sudah ada `arahan` Dewan Syuro, tapi di putaran kedua akan ada mobilisasi ke pasangan KaJi," katanya.
Hal yang sama juga diungkapkan Sekretaris DPW Partai Matahari Bangsa (PMB) Jatim, Syafrudin Budiman. "Secara politis, kami tidak mungkin mendukung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf yang didukung PAN, tapi kami masih menunggu pengumuman KPU Jatim secara resmi," katanya.
Menurut aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah itu, dirinya menunggu keputusan KPU Jatim, karena kemungkinan pasangan Sutjipto-Ridwan yang didukung PMB Jatim dalam putaran pertama masih ada. "Kalau sudah tertutup, kami pasti ke pasangan Khofifah-Mudjiono," katanya.
Kemungkinan Pilgub Jatim putaran kedua itu merujuk survei yang dilakukan berbagai lembaga survei, diantaranya Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA PhD, Lembaga Survei Independen (LSI) pimpinan Syaiful Mujani, Litbang Kompas, dan PuSDeHAM.
Hasil "quick count" LSI pimpinan Denny JA mencatat pasangan Soekarwo - Saifullah Yusuf (KarSa) mendapatkan 26,58 persen suara, sedangkan pasangan Khofifah-Mudjiono dengan 24,83 persen, bahkan LSI Denny JA juga mencatat 38 persen suara PKB ke Khofifah-Mudjiono.
Senada dengan itu, LSI pimpinan Syaiful Mujani juga mencatat Soekarwo-Saifullah Yusuf dengan 26,94 persen suara, sedang Khofifah-Mudjiono dengan 25,41 persen, sehingga tidak ada yang di atas 30 persen dan harus diulang dalam putaran kedua.
Sementara itu, penghitungan cepat (quick count) versi Litbang Kompas dan radio Suara Surabaya juga menempatkan pasangan Soekarwo - Saifullah Yusuf pada posisi pertama dengan 25,53 persen suara, kemudian Khofifah Indar Parawansa - Mujiono 25,25 persen.
Tak jauh beda, penghitungan cepat yang dilakukan Pusat Studi Demokrasi dan HAM (PuSDeHAM) pimpin Muhammad Asfar MSi juga menyimpulkan Soekarwo - Saifullah Yusuf memperoleh 27,18 persen, lalu posisi kedua diduduki Khofifah-Mudjiono dengan 24,93 persen suara.(*)
http://www.antara.co.id/arc/2008/7/24/pkb-jatim-pro-muhaimin-ke-khofifah-di-putaran-dua/
Rabu, 30 Juli 2008
KANDASNYA IJTIHAD POLITIK AMIEN RAIS ?
Oleh : Imam Achmadi *)Dengan modal Muhammadiyah sebagai basis dukungan, Mas Amien Rais sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah waktu itu mendirikan PAN. Ijtihad politiknya: tinggalkan asas Islam , Persatuan ummat Islam untuk perjuangan politik tidak lagi relevan Selamat tinggal Masyumi dan PPP. Maka tawaran memimpin Partai Bulan Bintang yang mengaku sebagai pewaris perjuangan Masyumi pun ditolaknya. Demikian pula tawaran yang sama dari PPP yang sejarahnya merupakan fusi Partai Partai Islam yang dipaksakan rezim Orde Baru. juga ditolaknya. PAN adalah Partai Nasional yang mencerminkan kemajemukan keber-agama- an sebagai realitas kehidupan bangsa PAN sebagaimana Partai Partai lain berdasarkan Pancasila,. Yang membedakan dengan Partai lain adalah platform yang diperjuangkannya.
Dalam kenyataan politiknya, PAN selama dua kali Pemilu pada era Reformasi tidak bisa menunjukkan nilai lebih apa apa dari segi pemilihnya. Pemilihnya tak lain ya warga Muhammadiyah sendiri, dikurangi mereka yang sebelum reformasi telah memilih Partai lain terutama Golkar dan PPP, kemudian PBB dan PKS bahkan ada pula yang memilih PDI. Bahkan pada Pemilu kedua prosentase pemilih PAN menurun karena lebih banyak lagi generasi mudanya yang hijrah ke PKS, Tanya kenapa ?
Politisi PAN yang kemudian terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pusat, Propinsi atau Daerah Kabupaten /kota bukan merupakan representasi dari pemilihnya. Mereka hanya mengandalkan warga Muhammadiyah yang umumnya hanya melihat PAN yang dipimpin bekas Ketua Pimpinan Pusatnya . Barangkali juga karena simbolnya yang juga matahari.. Dari PAN tak pernah ada usaha mencari anggota sebanyak-banyaknya apalagi mengadakan kaderisasi Partai. Numpang sajalah, kalau nomor urut diatas ‘kan terpilih juga. Untuk apa cari anggota, menciptakan kader ? Salah salah malah bisa menggusur mereka sendiri nanti.
Maka ijtihad Mas Amien Rais pun kandaslah. PAN tidak merambah kemana mana, Kalau Pemilu datang dan mau kampanye, mudah saja, toh ada struktur dan jajaran Muhammadiyah yang bisa ditumpangi. Ada sekolah, ada universitas ada rumah sakit ada Pimpinan Daerah, Cabang dan Ranting Muhammadiyah Dimana ada Muhammadiyah disitu tentu ada pemilih PAN. Para pimpinan PAN boleh majemuk, tapi masalah konstituen ya hanya orang Muhammadiyah. Pengurus Muhammadiyah biasanya ‘kan orang-orang ikhlas, tidak macam-macam keinginannya, apalagi kedudukan di bidang politik yang banyak godaannya ( sama dengan banyak duitnya).Siapa mau, silahkan. Pimpinan Muhammadiyah tidak pernah merekomendasi siapa-siapa untuk dicalonkan PAN. Mereka yang berambisi banyak kesempatan.
Entah bekal konsep pemikiran apa, apa yang harus diperjuangkan di bidang politik tak tahulah. Yang jelas kalau bisa berhasil jadi anggota Dewan. Perwakilan Rakyat di tingkat apapun, nasib pun berubahlah.Ah, masa iya ? Hal ini bukan berarti bahwa pimpinan PAN tidak berkualitas, apalagi DPP nya Mereka banyak yang berkualitas tetapi tidak punya garis ke massa. Maka tidak ada niatan ingin membesarkan Partai atau memandirikan Partai.
Mereka tak mau susah susah membuka ladang sendiri,merasa cukup saja dengan Ladang Muhammadiyah. Yang tinggal memanen saja. Lalu bagaimana mewujudkan ijtihad politik Amien Rais untuk merambah ke segenap daerah, agama dan lapisan masyarakat ? Itu urusan Pak Amien sendiri saja lah.
Maka ketika muncul Partai Matahari Bangsa yang diprakarsai angkatan Muda Muhammadiyah atau kongkritnya para mantan pimpinan dan aktivis organisasi otonom Muhammadiyah seperti Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar / Remaja Muhammadiyah, Nassyiatul ‘Aissyiah ( NA ) ,Tapak Suci Putra Muhammadiyah, pimpinan PAN nampak gelagapan sampai ramai ramai “mendemo” Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin. Kongkritnya, mereka meminta agar Pak Din Syamsuddin dalam setiap Da’wahnya jangan mengisyaratkan kedekatannya dengan Partai Matahari Bangsa ( PMB ). Ketua PAN Sutrisno Bachir meminta komitmen Muhammadiyah agar tidak memberi restu politik kepada PMB.
Nampaknya Din Syamsuddin pasca PAN dipimpin Amien Rais, merasa kurang dekat dengan PAN. Bahkan ulang tahun PAN yang notabene lahir dari rahim PP Muhammadiyah, tetapi PP Muhammadiyah sebagai ibu yang melahirkan kok tidak diundang. Malah malah Din sering menerima keluh kesah kader kader Muhammadiyah yang di terlantarkan di PAN.
Tetapi salah seorang kader Muhammadiyah di Jawa Timur yang pro dan menyambut antusias PMB berkata lantang.” Ijtihad politik Pak Amien telah kandas. Kami ingin kembali ke khittah Muhammadiyah tahun l97l yang diputuskan Mu’tamar Muhammadiyah di Ujung Pandang . Disitu dinyatakan bahwa Muhammadiyah berjuang dibidang da’wah kemasyarakatan, sedang di bidang politik perlu dibentuk satu partai politik.Dan satu partai politik itu sekarang telah terbentuk yaitu PMB, Partai Matahari Bangsa yang sepenuhnya digerakkan oleh kader-kader Muhammadiyah”
“ Dengan kepribadian yang utuh 100 % Muhammadiyah kami akan bekerjasama dengan segenap anak bangsa menegakkan kebenaran keadilan dan kejujuran berkhitmad untuk Indonesia Raya . Partai bagi kami bukan biro jasa urusan karir pribadi bagi yang berambisi kekuasaan. PMB adalah Partai bermisi da;wah, amar ma’ruf nahi mungkar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara . Muhammadiyah dan PMB adalah dua sisi mata uang yang sama “ Katanya bersemangat..
Wah, Pak Sutrisno Bachir dan kawan kawan bisa tambah sewot. Tetapi apa semudah itu PMB meiwujudkan konsep dan citranya tersebut kedalam kenyataan.? Di daerah daerah banyak orang Muhammadiyah yang merasa mapan karena duduk sebagai anggota DPRD mewakili PAN. Dengan kedudukannya itu tak mungkin mereka dengan mudah menerima PMB . Begitu pula yang di PBB, PPP dan PKS. Mungkinkah PAN yang paling besar menggaet pemilih dari Muhammadiyah akan terbelah , atau malah pemilih PAN bedol desa bergabung ke PMB?
Hasil Pemilu 2009 yang akan menjawabnya..
*) Mantan Sekum dan Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar
Muhammadiyah periode l966-l969 dan periode 1969- 1972
Tim Ahli Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur 2005- 2010
BIODATA PENULIS
Nama : Drs. H. Imam Achmadi
Alamat : Jl. Rajawali 20 Rewin-Sidoarjo
Pekerjaan : Pensiunan Kakanwil Depsos Jawa Timur
Hoby : Menulis
Aktivitas : Koordinator Inisiator Partai Matahari Bangsa Jawa Timur dan Sekarang Ketua Majelis A'la Pimpinan Wilayah Partai Matahari Bangsa Jawa Timur.
PMB : Solusi Kegamangan Politik Warga Muhammadiyah

Oleh : Syafrudin Budiman, SIP.*
Kami Telah Berjanji Memimpin Negeri Ini,
Seperti Matahari Takkan Lelah Menyinari
Kalimat di atas adalah paragraf pertama dalam lagu Mars Partai Matahari Bangsa. Partai ini didirikan dan dilahirkan oleh eksponen, aktifis dan simpatisan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). PMB ini lahir pada 8 Januari 2006 di Jakarta. PMB juga diperkenalkan pada publik melalui Soft Launcing 11 Januari 2007 di Sahid Hotel Jakarta dan rencananya akan dideklarasikan di Yogjakarta 14-16 Desember 2007 tempat kelahiran tokoh Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan.
Jika di lihat dari syair Mars PMB, terlihat jelas bahwa, ada semangat yang tinggi dari generasi muda Muhammadiyah untuk ikut andil dalam tampuk kekuasaan. Dengan kalimat akan berjanji memimpin negeri Indonesia ini yang memiliki jumlah penduduk 220 juta lebih dan dua ribu lebih pulau dari Sabang sampai Merauke.
Walaupun dibantah oleh pendirinya, PMB diduga adalah pecahan Partai Amanat Nasional (PAN). Partai baru berlogo mirip lambang Muhammadiyah ini memiliki garis-garis perjuangan Ke-Islaman yang jelas. Partai ini adalah Partai Islam Berkemajuan yang meletakkan landasan perjuangannya kepada prinsip-prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin, terbuka terhadap kemajuan, cinta damai dan menghargai kemajemukan agama, budaya dan etnisitas.
PMB juga meyakini bahwa Islam dapat membawa rakyat Indonesia menuju kesejahteraan material (lahiriyah) dan spiritual (bathiniyah). Oleh karena itu, tujuan perjuangan politik PMB diarahkan pada upaya menjaga kemuliaan Islam dengan jalan mengupayakan pemenuhan kebutuhan rakyat dalam berbagai sektor kehidupan (harasat al-din wa siyasat al-dunya).
Selanjutnya dalam rangka membangun kekuatan untuk mencapai tujuan tersebut, PMB memiliki enam butir platform. Diantaranya; pertama Integritas Nasional (Al-Wahdah Al-Wathaniyah) PMB meyakini bahwa seluruh persoalan yang dihadapi bangsa ini hanya dapat diselesaikan bila seluruh komponen bangsa ikut berpartisipasi secara nasional. (al-maslahah al-‘ammah).
Kedua Demokrasi (Al-Dimuqrathiyyah) PMB memperjuangkan demokrasi secara konsisten. Prinsip demokrasi antara lain ; al-musawah (egalitarianisme), al-hurriyah (kemerdekaan), al-ukhuwwah (persaudaraan), dan al-syura (musyawarah).
Ketiga Keadilan (Al-‘Adalah) PMB meperjuangkan terwujudnya nilai-nilai keadilan bagi seluruh rakyat. Keadilan adalah milik seluruh rakyat tanpa terkecuali, dan harus diperjuangkan dengan membumikan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan keadilan, upaya mewujudkan cita-cita politik Islam (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur) dapat tercapai.
Keempat Supremasi Hukum (Tafawwuq Al-Hukmi) Partai Matahari Bangsa berjuang untuk menegakkan supremasi hukum di Indonesia, sehingga prinsip kesamaan derajat di depan hukum yang merupakan hak setiap individu dapat terwujud.
Kelima Penegakan Nilai-Nilai Kemanusiaan (Qamat Al-Huquq Al-Insaniyyah) PMB berjuang bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di tengah-tengah masyarakat. Penegakan nilai-nilai kemanusiaan sejalan dengan prinsip-prinsip Islam yang menjamin dan melindungi hak hidup (hifdz al-nafs), beragama (hifdz al-din), kebebasan berfikir (hifdz al-‘aql) dan kepemilikan (hifdz al-mal).
Dan yang ke-enam adalah Kesejahteraan Rakyat (Al-Mashlahat Al-Ijtima’iyah) PMB meperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. PMB selalu berjuang bagi terwujudnya kesempatan memperoleh pendidikan (tarbiyah) dan pelayanan kesehatan (‘afiyah) yang berkualitas. (Platform PMB : 2006).
Dari ke-enam platform di atas menunjukkan bahwa PMB memang benar-benar adalah Partai Islam yang lahir dari Muhammadiyah dan didirikan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah. Bahkan ada Ust. Zainuddin, tokoh Muhammadiyah dari Madura mengatakan bahwa, AD/ART, Platform dan Asas Perjuangannya mirip atau sama dengan tujuan berdirinya Partai Politik Islam Masyumi. Masyumi adalah wadah politik pertama kali umat Islam dan warga persyarikatan Muhammadiyah di Indonesia. Sebelum akhirya diminta dibubarkan oleh Sukarno pada tahun 1960 bersama-sam PSI, karena alasan tokoh-tokoh Masyumi dituduh terlibat pemberontakan PARMESTA.
Sementara sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar PMB, Pasal 7 tentang Tujuan. Partai Matahari Bangsa bertujuan mewujudkan misi Islam berkemajuan menuju masyarakat utama, adil, makmur dan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Bahkan dalam Anggaran Dasar PMB, Pasal 8 tentang Usaha disebutkan; Dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar Partai Matahari Bangsa berjuang untuk : 1 Memperkuat kedaulatan dan keutuhan Negara Republik Indonesia., 2 Mengembangkan kehidupan politik kebangsaan yang demokratis, partisipatif dan beradab. 3 Menciptakan tatanan perekonomian nasional yang berpihak kepada seluruh rakyat. 4 Menegakkan keadilan dan kedaulatan hukum. 5 Mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. 6 Mengembangkan kepribadian bangsa yang luhur dan kehidupan sosial-budaya yang egaliter.
Pembaharuan Politik Muhammadiyah
Akhir-akhir ini warga Muhammadiyah resah dan mengalami kegamangan politik, tidak jelas arah ideologi-nya mau kemana. Sehingga dengan kehadiran PMB menjadi angin segar bagi warga Muhammadiyah. Kekecewaan warga Muhammadiyah terhadap partai politik yang ada telah mengalami titik puncaknya. Baik kepada PAN, PKS, PBB, PPP dan PBR sebagai partai berbasis Islam modern. Walaupun secara organisatoris Muhammadiyah tidak berpihak kepada salah satu partai.
PAN pasca lengsernya Amien Rais semakin tidak jelas. Soetrisno Bachir (SB) Ketua Umum DPP PAN ini sering diterpa isu yang miring. Masalah yang melekat diantaranya dugaan dan tuduhan berselingkuh dengan artis Nia Paramita, istri dari aktor tampan Gusti Randa. Pebisnis dari Pekalongan ini juga terlalu dekat dengan berbagai dunia ke-artisan dan bisnis keluarganya diduga terlibat kredit macet di salah satu bank swasta di negeri ini.
Selain itu SB langkah politiknya dianggap terlalu pragmatis. Ia terlalu dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sedikit-sedikit datang ke Istana dan langkahnya mirip gaya pebisnis yang sering main lobi sana lobi sini. Maklum sebelum menjadi ketua DPP PAN, ia adalah konglemerat handal yang memiliki aset senilai trilyunan. Setiap langkah politik ada hitung-hitungannya seperti bisnis.
Lebih parah lagi dirinya juga sering berbeda pendapat dengan Amien Rais. Perihal permasalah Blok Cepu, impor beras, kenaikan BBM dan lain-lain. Hal ini menunjukkan wacana yang negatif, “Amien Rais saja yang nota bene-nya adalah Ketua Majelis Pertimbangan Partai Partai Amanat Nasional (MPP PAN) sering dilangkahi. Apalagi pada Muhammadiyah.”
Sedangkan PKS, adalah partai Islam yang juga menjadi sandaran politik kedua warga Muhammadiyah. Partai yang menggunakan sarana dakwah untuk membesarkan partainnya ini, memang mampu menarik simpati sebagian warga Muhammadiyah. Terutama basis Muhammadiyah yang alergi terhadap partai nasionalis-sekuler yang cenderung di duga liberal-kapitalistik. PKS mampu mengambil ruang kegamangan warga Muhammadiyah dengan jargon-jargon Islam. Namun di lapangan sikap politik sering berbenturan dengan Muhammadiyah secara organisasi. Misalnya ketika Muhammadiyah mendukung pencalonan Amien Rais sebagai presiden PKS sangat ragu-ragu dan maju mundur.
Selain itu di lapangan ruang dakwah kader-kader PKS sering mendistorsi Muhammadiyah. Bahkan mampu menggoyahkan spirit ke-Muhammadiyahan warga Muhammadiyah di daerah-daerah. Karena khawatir dengan gerak PKS, akhirnya dalam Surat Keputusan PP Muhammadiyah Nomor 149 Kep/1.0/b/2006 tentang Kebijakan PP Muhammadiyah tentang Konsolidasi Organisasi dan Amal Usaha. Muhammadiyah dengan terang menyebut PKS sebagai partai dakwah dilarang mendompleng amal usaha dan gerakan dakwah Muhammadiyah di tingkatan basis gerakan dakwah Muhammadiyah.
Memang surat edaran itu tidak ada kaitan khusus, umum dan netral saja untuk meneguhkan identitas Muhammadiyah. Diharapkan yang setuju dengan gerakan dakwah Muhammadiyah, berpegang teguh pada gerakan Muhammadiyah. Muhammadiyah sebgai lahan acuan teologis, sebagai lahan berdakwah dan beramal.
Muhammadiyah ibarat tenda yang besar. Demikian Prof. Dr. Din Syamsuddin menganalogikan organisasi Islam modernis yang dipimpinnya. Di dalam Muhammadiyah terdapat berbagai orang dengan bermacam latar belakang aliran dan paham keagamaan dalam Islam. Semua bisa masuk menjadi pengurus atau anggota perserikatan Islam ini, tapi dengan satu syarat: harus tunduk pada nilai-nilai, khitah, dan aturan ke-Muhammadiyah-an.
Muhammadiyah menegaskan tetap teguh dengan khitahnya sebagai lembaga dakwah dan amal yang tidak terkait dengan partai politik mana pun. "Klaim-klaim itu pasti ada, tapi itu dari politisi. Bahwa Muhammadiyah dekat dengan PAN (Partai Amanat Nasional), itu klaimnya PAN. Dekat dengan PBB (Partai Bulan Bintang) atau PPP (Partai Persatuan Pembangunan), itu klaim mereka," tutur Din Syamsuddin (Gatra Nomor 8 Kamis, 4 Januari 2007)
Oleh karena hal tersebut di atas sangatlah memungkinkan bagi PMB untuk lebih leluasa mengembangkan pengaruh politiknya di Muhammadiyah. Jika dilihat dari nama-nama pendiri-pendirinya seratus persen adalah warga dan pegurus Muhammadiyah baik yang pernah di Ortom Muhammadiyah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah dan bahkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selain itu juga, struktur kepengurusan PMB seratus persen adalah warga Muhammadiyah.
Jadi sudah jelas tunggu apalagi? Gerak dan perjuangan PMB mirip dengan Muhammadiyah. Bahkan para kader PMB yang juga secara terang faktanya mereka aktifis dan bahkan pengurus Muhammadiyah di semua tingkatan. Para kader PMB akan lebih leluasa berkampanye di lingkungan Muhammadiyah. Para kader PMB yang masih muda-muda dengan jenjang ke-Muhammadiyahaannya yang tidak diragukan lagi. Akan lebih mudah meraih simpati warga Muhammadiyah ketimbang partai-partai lainnya yang ingin meraih simpati warga Muhammadiyah. Paling-paling yang menolak keberadaan berdirinya PMB hanya segelintir orang. Sebut saja misalnya para aktifis Muda Muhammamdiyah yang cenderung berpaham liberal dan paradoks dengan perkembangan dakwah Muhammadiyah.
Jika melihat situasi di atas tentulah PMB akan diharapkan membawa angin segar dalam mengartikulasikan keinginan besar warga Muhammadiyah. Bergerak saling menguntungkan antara gerakan dakwah dan politik. Langkah PMB tentunya tidak akan pernah mendistorsi Muhammadiyah, bahkan saling mencapai tujuan kerjasama yang menguntungkan Muhammadiyah (simbiosis mutualisme). Bahkan jika tidak ada halangan PMB sebagai partai Islam akan menjadi sandaran utama aspirasi dan pilihan warga Muhammadiyah. Kita tunggu di lapangan. Wassaslam..
* Penulis adalah Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP-IMM) Periode 2006-2008 dan Sekretaris Pimpinan Wilayah Partai Matahari Bangsa (PW-PMB) Jawa Timur.
Parpol Besar Ganjal Capres Alternatif
Oleh Slamet Hariyanto
Proses politik pembahasan revisi UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pilpres diwarnai ambisi parpol besar untuk mempersempit peluang capres alternatif. Gejala itu ditunjukkan PG dan PDIP melalui fraksinya di DPR.
PG dan PDIP menginginkan parpol pengusung pasangan capres 2009 disyaratkan memiliki minimal 30 persen perolehan suara pemilu legislatif. Bila angka ini berhasil disepakati dalam UU Pilpres, maka hanya dua pasang capres yang punya peluang bertarung di Pilpres 2009.
Berdasarkan realitas pemilu legislatif 2004, PG memperoleh 21 persen suara. PDIP dapat meraup 19 persen suara. Jika persyaratan 30 persen suara hasil pemilu legislatif 2009 dijadikan patokan mengusung pasangan capres, maka peluang terbesar dimiliki PG dan PDIP.
Modal politik yang dimiliki PG dan PDIP sangat potensial untuk mencari tambahan dukungan dari parpol lain. Keberadaan parpol lainnya terpaksa harus berkoalisi dengan salah satu parpol besar yakni PG atau PDIP.
Memang, masih ada peluang koalisi lain berupa bergabungnya parpol-parpol kecil dan menengah untuk mengusung pasangan capres sendiri. Mereka bisa melakukan itu asalkan memiliki jumlah prosentase perolehan suara minimal 30 persen. PG dan PDIP punya potensi politik untuk menghalang-halangi munculnya koalisi ini. Sebab, koalisi parpol kecil dan menengah bakal memberi peluang bagi capres alternatif.
Salah satu manfaat pilpres hanya diikuti 2 pasang adalah ada jaminan bahwa pelaksanaan pilpres hanya berlangsung 1 putaran. Selain biayanya lebih hemat, juga ongkos sosial politiknya lebih rendah. Namun, di sisi lain rakyat memiliki keterbatasan untuk memilih capres alternatif selain figur pasangan capres yang diusung PG bersama koalisinya, dan PDIP bersama parpol pendukungnya.
Saat ini publik sudah dapat gambaran, PDIP pasti mengusung Megawati sebagai capres 2009. Parpol berlambang kepala banteng bermulut putih ini hanya tinggal satu langkah politik untuk menentukan cawapres yang bakal dipasangkan dengan Megawati.
Posisi politik PDIP saat ini sangat diuntungkan karena parpol ini konsisten berada di luar pemerintahan. Tidak ada kader PDIP yang menjadi anggota kabinet pemerintahan SBY-JK. Opini rakyat sudah melekat bahwa PDIP dianggap sebagai partai opisisi.
Secara alamiah, partai oposisi akan sangat diuntungkan apabila kinerja pemerintahan jelek dan mengecewakan rakyat. Selama hampir empat tahun pemerintahan SBY-JK ternyata banyak celah yang bisa disebut mengecewakan rakyat.
Secara teoritik, PDIP sangat diuntungkan dengan kondisi ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintahan SBY-JK. Sehingga, capres yang diusung PDIP punya peluang untuk dapat simpatik rakyat pemilih.
Persoalannya hanya pada figur capres yang bakal diusung PDIP. Jika PDIP tetap ngotot mengusung capres Megawati, perlu dihitung lebih cermat tentang peluang kemenangannya. Sebab, Megawati termasuk stok lama. Dia pernah menjadi presiden dan kalah dalam Pilpres 2004. Bagaimana pun kekalahan Megawati pada Pilpres 2004 merupakan bukti bahwa rakyat menganggap kinerja pemerintahan Megawati jelek.
Tidak gampang untuk meyakinkan publik bahwa Megawati maju jadi capres 2009 bisa memberikan harapan baru bagi rakyat. Tentunya, PDIP lebih mudah menyusun strategi pemenangan pilpres bila mampu memberikan figur capres baru. Meski pun harus diakui, pembaruan seperti itu tidak mudah dilakukan di internal PDIP.
Realitas hasil Pilpres 2004 memberi pelajaran politik berharga bagi elit politik. Waktu itu sangat kuat munculnya aspirasi rakyat tentang perlunya pemimpin baru di negeri ini. Siapa pun tokoh-tokoh stok lama yang ingin maju dalam Pilpres 2009, hendaknya mewaspadai kondisi politik 2004 bakal terulang pada 2009.
Dengan mempertimbangkan perubahan politik seperti itu, maka ada tiga prediksi peluang kemenangan bagi capres 2009. Pertama, figur SBY-JK masih berpeluang menang. Kondisi politik ini tercipta karena rakyat karena rakyat belum yakin bahwa pemimpin baru belum tentu berhasil membawa pada keadaan yang lebih baik.
Pemikiran ini dilatarbelakangi bahwa meski pun SBY-JK belum dianggap punya kinerja bagus, tapi perlu diberi kesempatan melanjutkan program-programnya yang belum tuntas. Tentunya, SBY-JK masih dipercaya oleh rakyat untuk memimpin lagi benar-benar tidak dikaitkan dengan faktor parpol mana yang mengusung pasangan ini. Meski pun demikian, kondisi politik akan berbeda bilamana pasangan SBY-JK pecah dalam Pilpres 2009.
Kedua, rakyat merindukan mantan pemimpin lama bisa tampil lagi. Kondisi politik seperti ini tumbuh subur bilamana pemerintahan SBY-JK dianggap gagal dan kinerjanya tidak lebih baik dari rezim sebelumnya. Lantas, siapa mantan pemimpin lama yang dimaksud? Tentu figur yang digadang-gadang adalah Gus Dur atau Megawati.
Ketiga, rakyat sudah bosan dengan tokoh lama, baik yang masih menjabat atau yang sudah mantan. Kondisi politik seperti ini yang mendorong tampilnya capres alternatif selain SBY, Gus Dur, Megawati, dan Jusuf Kalla. Persoalannya adalah sampai seberapa kuat capres alternatif bisa mendapat dukungan kendaraan politik dari parpol.
Jika capres alternatif mampu mengumpulkan dukungan banyak parpol kecil sehingga mencapai jumlah minimal 30 persen perolehan suara legislatif, maka peluang munculnya capres alternatif tidak boleh dianggap remeh. Dari pengalaman di beberapa pilkada, ternyata dominasi parpol besar (PG, PDIP, PD) mulai rontok. Calon kepala daerah dari parpol besar justru dikalahkan jago dari gabungan parpol kecil.
dari www.slamethariyanto.wordpress.com
PMB Rekomendasikan 13 Nama yang Layak Jadi Capres
27/07/08Jakarta- Partai Matahari Bangsa (PMB) merekomendasikan sebanyak 13 tokoh nasional yang dianggap layak untuk dicalonkan sebagai presiden pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2009.
Rekomendasi nama 13 tokoh yang berpeluang masuk bursa kepemimpinan nasional tersebut merupakan hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Jakarta, Minggu.
Ke-13 tokoh tersebut adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Umum PMB Imam Addaruqutni, mantan Ketua Umum PP Muhammdiyah M Amien Rais, Mensesneg Hatta Radjasa, mantan Menteri Agama Malik Fajar dan Ketua PP Aisyiah Chamamah Suratmo.
Selain itu mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, tokoh muda Muhammadiyah Jefrie Geovanie, Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqoddas, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Hajriyanto Y Tohari, dan Kapolri Jenderal Polisi Sutanto.
Usai menutup Rapimnas, Ketua Umum PMB, Imam Addaruqutni mengatakan, pihaknya akan terus mengamati dan memonitor perkembangan ke-13 tokoh tersebut di masyarakat.
"Nama-nama tersebut nantinya diharapkan akan mengerucut menjadi satu nama menjelang Pilpres 2009," katanya, didampingi Sekjen Ahmad Rofiq dan jajaran pengurus PMB lainnya.
Imam menambahkan, masih ada waktu sekitar setahun untuk memproses ke-13 nama tersebut hingga mengerucut menjadi satu nama.
"Kita punya formulanya, kemungkianan konvensi atau pemilu raya di kalangan intern PMB juga bisa. Peluang lewat konvensi sekitar 80-90 persen. Tetapi yang jelas, kita akan jalin komunikasi intensif dengan 13 tokoh itu," katanya.
Inginkan pemimpin altenatif
Mengenai tidak masuknya nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla di antara 13 nama itu, Imam mengatakan, para peserta Rapimnas menginginkan pemimpin nasional alternatif yang mampu membawa perubahan.
Menurut dia, PMB ingin agar masyarakat tidak terjebak pada polarisasi terhadap satu figur, sehingga masyarakat perlu dihadapkan pada pilihan alternatif.
"Sri Sultan memiliki hubungan historis dengan Muhammadiyah, karena pendiri Muhammadiyah yakni KH Ahmad Dahlan pernah menjadi rujukan Kraton, sedangkan Kapolri Jenderal Pol Sutanto dianggap memegang peranan penting dalam masalah keamanan," katanya.
Ketika ditanya masuknya nama Amien Rais, Imam menjelaskan Amien termasuk tokoh populer dan tokoh reformasi, sehingga meski berbeda pendapat tetapi PMB tidak bermusuhan dan menganggap sebagai tokoh nasional yang masih "gemerlap".
"Apalagi di partainya yang lama (PAN), beliau tidak lagi disebut-sebut sebagai capres," katanya.
Rapimnas PMB itu juga menargetkan mendapatkan sebanyak 1.700.000 kader dan berupaya memperoleh suara sebesar 7 persen pada Pemilu 2009.
"Kita akan berusaha melewati perolehan suara maupun kursi di DPR RI sebesar tujuh persen. Kalau bisa dapat 10 persen kursi di DPR Alhamdulillah, tetapi target kita adalah lolos ketentuan electoral threshold dan parliamentary threshold," kata Imam.
Rapimnas PMB yang berlangsung 25-27 Juli itu merupakan yang pertama kali sejak ditetapkan sebagai parpol peserta Pemilu 2009 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). (*)
http://www.antara.co.id/arc/2008/7/27/pmb-rekomendasikan-13-nama-yang-layak-jadi-capres/
