Senin, 19 Januari 2009

Din: Kalau Perlu Jadi Provokator!

Citizen Journalism
20/01/2009



Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, datang ke Cirebon dalam rangka Milad Muhammadiyah ke 99 yang diselenggarakan Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PDM) Cirebon, serta peresmian pembangunan tahap kedua Gedung Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) dan beberapa peresmian amal usaha di lingkungan Muhammmadiyah Cirebon.


Din Syamsuddin diterima Bupati Cirebon Dedi Supardi,di rumah dinasnya. Di Pendopo Kabupaten ini juga berlangsung acara Milad Muhammadiyah dihadiri tidak kurang dari 3.000 warga Muhammadiyah.


Dalam kesempatan itu, Din sudah mulai memperkenalkan isu-isu Muhammadiyah yang akan segera menggelar Muktamar satu abad. "Muktamar Muhammadiyah satu abad, akan diselenggarakan tahun 2010 di kota kelahirannya yakni di Yogyakarta. Untuk menyongsong Muktamar Muhammadiyah ini, saya mengajak warga Muhammadiyah meningkatkan prestasi, “ ujar Din.


Itulah sebabnya sejak awal terpilihnya sebagai Ketua Umum Muhammadiyah, Din memutuskan untuk datang ke daerah hanya untuk meresmikan amal usaha Muhammadiyah, seperti yang dilakukannya di Cirebon. Hal itu, menurut Din dilakukan agar Muhammadiyah melakukan pembangunan di segala bidang.


"Kita sudah memiliki ratusan rumah sakit dan universitas. Maka, agar amal usaha itu bermanfaat, khususnya prestasi universitas yang dimiliki Muhammadiyah perlu digalakkan. Prestasi yang dimaksud adalah prestasi akademik agar kader-kader kita bisa dikenal handal dalam penelitian-penelitian dan handal dalam prestasi pembangunan yang lain, sehingga kader-kader kita menjadi tokoh-tokoh berkemampuan tinggi dan dikenal masyarakat luas," ujarnya.


"Kalau perlu, pimpinan amal usaha Muhammadiyah harus menjadi 'provokator' positif untuk bangsa ini, agar memicu dinamisasi secara umum. Saya berharap, mulai saat ini Muhammadiyah harus bisa ikut menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Kita selama ini mungkin baru menjadi parth of the problem (bagian dari masalah) dari sekian persoalan bangsa. Kita harus menjadi penggerak terdepan dalam pemberantasan kemiskinan, kebodohan, dan buta aksara," katanya.


Lebih lanjut ,Din mengatakan bahwa perlu adanya orientasi pendidikan ke arah pembentukan watak bangsa. Terutama untuk menghadapi globalisasi yang penuh dengan persaingan. Idealnya, pendidikan nasional harus mampu mendorong keunggulan dinamis bangsa.


Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi nilai, bukan sekedar pengajaran semata. Dengan adanya perubahan orientasi pendidikan khususnya, maka diharapkan terwujudnya masyarakat yang cerdas dan ahli, sehingga tak akan lagi kemiskinan dan kebodohan yang melekat kepada bangsa kita kelak.


Untuk mendukung ucapannya, Din bercerita, bahwa suatu saat dirinya pernah diundang ke PBB untuk membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan kemiskinan. Karena yang diundang hanya 12 tokoh agama.


"Tapi saya sedih, meskipun saya diundang mewakili Asia, ternyata saya baru sadar bahwa undangan itu sama saja dengan mengklaim bahwa Indonesia adalah negara miskin. Ketika saya dimintai bagaimana meningkatkan pengentasan kemiskinan, maka saya meniru 'gaya' pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Saya bilang di PBB, bahwa kita akan mengamalkan Al Qur'an Surat Al Ma'uun. Kita akan berdayakan warga miskin agar bangkit dan hidup yang lebih baik," kata Din.


Yang perlu dilakukan adalah, perlu dibangkitkannya semangat Muhammadiyah agar warganya bisa menjadi kekuatan yang dipertimbangkan keberadaannya.


Agar menjadi kuat, harus ada persatuan. Jauhkan konflik, jauhi gesekan yang melelahkan. Kebersamaan adalah sangat penting untuk membentuk masyarakat yang kuat. Maka, jika semua menjadi kuat, Indonesia akan menjadi negara yang terhormat. Bukan menjadi negara yang tercerai berai.


Edy Kuscahyanto, edykus@cbn.net.id (inilah.com)

Tidak ada komentar: