Kamis, 12 Februari 2009

PKS Kehilangan Kepercayaan Diri?

Pemilu 2009
12/02/2009

Jakarta – PKS bermanuver lagi. Namun, di luar kebiasaannya, partai dakwah ini tak mengambil posisi 'memimpin'. Dengan mengundang sejumlah pimpinan parpol besar, PKS menjajaki peta koalisi parpol pasca pemilihan legislatif. PKS mulai kehilangan kepercayaan diri?

Melalui acara 'Kemana Arah Koalisi Setelah Pemilu 2009', PKS menjajaki sikap sejumlah parpol lain. Empat parpol yang dipilih PKS, hampir semua jadi calon lawan berat mereka mengumpulkan suara pada Pemilu mendatang. Keempatnya yakni Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Demokrat, dan PPP.

Mulai Kamis (12/2) malam, PKS secara rutin hingga satu bulan ke depan menggelar diskusi cukup spesial. Pasalnya, nara sumber yang dihadirkan adalah mereka pimpinan partai politik. Ketua Umum DPP PPP, Suryadharma Ali, mendapat jatah perdana.


Kamis pekan depan (19/2), giliran Ketua Umum DPP Partai Golkar, M Jusuf Kalla yang diundang. Setelah itu menyusul Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono pada Kamis (26/2). Sedangkan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, dapat kesempatan terakhir pada 5 Maret nanti.

“Acara itu hanya untuk diskusi saja. Kita ingin bicara lebih serius soal koalisi sebelum pemilu legislatif,” terang Humas DPP PKS, Mabruri, kepada INILAH.COM, Kamis (12/2) di Jakarta.

Menurut Caleg PKS Dapil Jawa Barat III ini, acara ini didesain PKS sebagai upaya membangun komunikasi politik agar tidak terjadi kesalahpahaman antarparpol. “Kalau berwacana di media massa, takutnya bias. Ketemu langsung kan enak,” ujarnya memberi alasan.

Apakah ini isyarat PKS hanya ingin berkoalisi dengan empat parpol yang diundang saja? Mabruri secar tegas membantahnya. Undangan hanya pada empat parpol, katanya, lebih karena faktor teknis saja. “Karena pertengahan Maret sudah mulai kampanye terbuka,” kilahnya.

Langkah politik PKS dengan mengundang sejumlah pimpinan parpol, mengingatkan publik dengan acara yang hampir mirip yaitu ‘Forum PPP Mendengar’ dengan mengundang sejumlah capres. Bedanya, PKS kali ini tidak fokus pada figur capres, namun membincangkan format koalisi yang pada akhirnya juga mengarah pada siapa capres yang bakal diusung.

Bukankah dengan mengundang pimpinan partai politik partai besar seperti memberi sinyal kelas PKS hanya pengikut saja? Mabruri secara diplomatis menjawab, pengikut atau pelopor tergantung perolehan pemilu legislatif April mendatang. “Kita lihat saja pasca pemilu legislatif,” tegasnya.

Pilihan empat parpol yang diundang PKS bukanlah semata-mata karena faktor teknis. PDIP, Partai Golkar, dan Partai Demokrat merupakan partai politik yang masuk kategori papan atas. Hanya PPP satu-satunya parpol Islam yang diundang PKS.

Kondisi ini, dalam pandangan pengamat politik Islam, Bachtiar Effendi, menunjukkan kepercayaandiri PKS yang tinggi. Menurut Bachtiar, bila dibanding dengan Pemilu 1999 dan Pemilu 2004, PKS secara konsisten mengalami kenaikan perolehan suara. “Saya menduga, langkah ini karena PKS merasa besar, makanya mengundang partai politik besar,” terangnya.

Jika agenda pertemuan dimaksudkan menggalang koalisi pasca pemilu legislatif, Bachtiar menilai hal tersebut merupakan upaya antisipasi yang positif. “Meski saya ragu, niatan itu akan berhasil. Logikanya, partai besar itu tidak bergabung. Mereka berdiri sendiri dengan melibatkan partai kecil,” ujarnya.

Lebih konkret dari itu, Bachtiar menyarankan, agar PKS menjadi pelopor koalisi dengan partai kelas menengah seperti PPP, PAN, PKB, PBR dan partai menegah lainnya. “Potensi PKS menjadi pelopor koalisi partai tengah cukup terbuka untuk berkontribusi memunculkan calon alternatif, meski belum tentu menang,” sambungnya. Peluang tersebut sebenarnya klop dengan gagasan capres usia di bawah 50 tahun (balita) yang didengungkan PKS selama ini.

Meski demikian, acara ‘Kemana Arah Koalisi Setelah Pemilu 2009’ memberi kesan bahwa partai Islam ini hanya di kelas pengikut koalisi. Mereka pelopor koalisi. Soalnya, kecuali PPP, tiga parpol lainnya adalah partai yang memiliki peluang mendorong sendiri kandidat capresnya pada Pilpres mendatang. [I4]

Tidak ada komentar: