Selasa, 03 Februari 2009

Tiga Parpol Baru Bikin Kejutan di Pemilu 2009


Minggu, 01/02/2009

JAKARTA – Tiga partai politik (Parpol) yang baru diperkirakan akan membuat kejutan pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. Ketiga parpol itu adalah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Matahari Bangsa (PMB).

Demikian diungkapkan pengamat politik dari Universitas Paramadina, Bima Arya Sugiarto, saat menjadi nara sumber diskusi bertajuk “Masa Depan Partai Baru” di Dapoer Café, Jakarta, Minggu (1/2).


Tampil sebagai pembicara lainnya mantan Menteri Riset dan Tekhnologi di era Presiden Abdurrahaman Wahid yang sekarang menjadi calon anggota legislatif dari Partai Hanura, AS Hikam, dan Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI), Jonny Plate.

“Saya perkirakan, Pemilu 2009 tetap akan dikuasai oleh tujuh partai lama. Hanya tiga partai baru yang kemungkinan bisa mengulang fenomena Partai Demokrat pada Pemilu 2004 lalu. Ketiganya adalah Gerindra, Hanura dan PMB,” kata Bima Arya.

Kalau lewat hitung-hitungan angka, terang Bima Arya, partai lama akan menguasai sekitar 80 persen dari total suara yang sah. Sedang partai-partai baru mendapat sisanya. “Sementara Gerindra, Hanura dan PMB saya pastikan akan masuk di dalam angka yang delapan puluh persen itu,” ujarnya.

Di waktu yang tersisa ini, kata Bima Arya, partai-partai sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan elektabilitas, dengan melakukan terobosan-terobosan. “Namun semuanya itu tampak sulit, karena hampir semua partai politik baru tidak menjual sosok-sosok yang memang memiliki tingkat popularitasnya cukup tinggi. Seperti Gerindra dengan Prabowo Subianto, Hanura dengan mengusung Wiranto dan PMB menggadang-gadang Din Syamsuddin,” jelasnya.

Jika pun ada partai lain yang mengusung sosok terkenal, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Sutiyoso. Namun masyarakat melihat semuanya itu tidak dilakukan secara total. Tawaran pengusungan terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono X maupun Sutiyoso, masih sebatas untuk memperkuat posisi tawar-menawar.

“Terlebih dengan sosok Sri Sultan yang masih belum bisa melepaskan dengan predikatnya sebagai Partai Golkar. Begitu pula dengan Sutiyoso yang belum apa-apa sempat memunculkan friksi di dalam internal Partai Indonesia Sejahtera yang konon akan mengusungnya,” tandasnya.

Marhadi-kabarpemilu.com/kp004

Tidak ada komentar: